izZi Blog

Friday, July 08, 2005

KARAKTERISTIK AYAH




Oleh: Rudy Himawan

Seorang Muslim sudah semestinya memikirkan masa depan dengan melakukaninvesment -bukan dengan stock portofolio, 401K, rumah ataupun savingaccount, tetapi dengan shodaqoh jariyah, menyebarkan ilmu yang bermanfaat,dan membina anak yang sholeh/-ah. Ketiga aktivitas ini ternyata tercakupdalam proses pendidikan anak dan apalagi Alhamdulillah banyak diantarakita yang telah dikaruniai anak, sehingga saya tergerak untuk merangkum 6 karakteristik kepribadian seorang ayah idaman.
1. Keteladanan

Suatu pagi, saya terperanjat ketika melihat cara putriku memakaisepatunya. Ia langsung memasukkan kakinya ke dalam sepatu tanpa melepastalinya. Rupanya selama ini ia memperhatikan bagaimana cara saya memakaisepatu. Karena malas membuka simpul tali sepatu, sering kali sayalangsung memakainya tanpa membuka dan mengikat simpul tali sepatu. Sayaberusaha melarangnya dengan memberikan penjelasan bhw cara memakai sepatuseperti itu bisa mengakibatkan sepatu cepat rusak. Namun hasilnya nihil.Ini merupakan satu contoh nyata bhw anak, terutama pada usia dini, mudahsekali mencontoh orangtuanya. Tidak perduli apakah itu benar atau salah.Nasehat kita tidak ada manfaatnya, jika kita tetap melakukan apa yang kitalarang.Apakah kita sudah memberikan teladan yang terbaik kepada anak-anak kita?Apakah kita lebih sering nonton TV dibandingkan membaca Al-Quran atau bukulain yang bermanfaat? Apakah kita lebih sering makan sambil jalan danberdiri dibandingkan sambil duduk dengan membaca Basmallah? Apakah kitasholat terlambat dengan tergesa-gesa dibandingkan sholat tepat waktu?Apakah bacaan surat kita itu-itu saja?Allah SWT berfirman dalam surat ash-shaff 61:2-3:"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamuperbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apayang tiada kamu kerjakan. "Allah SWT juga mengingatkan untuk tidak bertingkah laku seperti BaniIsrail dalam firmanNya dalam surat Al-Baqoroh 2:44 "Mengapa kamu suruhorang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamuberpikir?"

2. Kasih Sayang dan Cinta

Kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang yang tulus merupakan dasarpenting bagi pendidikan anak. Anak-anak usia dini tidak tahu apa namanya,tapi dengan fitrahnya mereka bisa merasakannya. Lihatnya bagaimanariangnya sorot mata dan gerakan tangan serta kaki seorang bayi ketikaibunya akan mendekap dan menyusuinya dengan penuh kasih sayang. Bayikecilpun sudah mampu menangkap raut wajah yang selalu memberikankehangatan, kelembutan, dan kasih sayang dengan tulus, apalagi mereka yangsudah lebih besar.Rasulullah SAW pada banyak hadith digambarkan sebagai sosok ayah, paman,atau kakek yang menyayangi dan mengungkapkan kasih sayangnya yang tulusikhlas kepada anak-anak. Sebuah kisah yang menarik yang diceritakan olehal-Haitsami dalam Majma'uz Zawa'id dari Abu Laila.Dia berkata: "Aku sedang berada di dekat Rasulullah SAW. Pada saat ituaku melihat al-Hasan dan al-Husein sedang digendong beliau. Salah seorangdiantara keduanya kencing di dada dan perut beliau. Air kencingnyamengucur, lalu aku mendekati beliau. Rasulullah SAW bersabda, 'Biarkankedua anakku, jangan kau ganggu mereka sampai ia selesai melepaskanhajatnya.' Kemudian Rasulullah SAW membawakan air." Dalam riwayat laindikatakan, 'Jangan membuatnya tergesa-gesa melepaskan hajatnya.'Bagaimana dengan kita?Sudahkan kita ungkapkan kecintaan kita yang tulus kepada anak-anak kitahari ini?

3. Adil

Siapa yang belum pernah dengar kata sibling rivalry dan favoritism? Jikabelum dengar, maka ketahuilah! Siapa tahu kita termasuk orang yang telahmelakukannya. Seringkali kita terjebak oleh perasaan kita sehingga kitatidak berlaku adil, misalnya karena anak kita yang satu lebih penurutdibandingkan anak yang lain atau karena kita lebih suka anak perempuandaripada anak laki-laki dll.Rasulullah SAW bersabda: "Berlaku adillah kamu di antara anak-anakmu dalampemberian." (HR Bukhari)Masalah keadilan ini dikedepankan untuk mencegah timbulnya kedengkiandiantara saudara. Para ahli peneliti pendidikan anak berkesimpulan bahwafaktor paling dominan yang menimbulkan rasa hasad/ dengki dalam diri anakadalah adanya pengutamaan saudara yang satu di antara saudara yanglainnya.Anak sangat peka terhadap perubahan perilaku terhadap dirinya. Jika kitalepas kontrol, sesegera mungkin untuk memperbaiki, karena anak yangdiperlakukan tidak adil bisa menempuh jalan permusuhan dengan saudaranyaatau mengasingkan diri (menutup diri dan rendah diri).

4. Pergaulan dan Komunikasi

Seringkali kita berada dalam satu ruangan dengan anak-anak, tapi kitatidak bergaul dan berkomunikasi dengan mereka. Kita asyiik membaca koran,mereka asyiik main video game, atau nonton TV.Banyak ahadith yang menggambarkan bagaimana kedekatan pergaulan RasulullahSAW dengan anak-anak dan remaja. Beliau bercanda dan bermain denganmereka.Bagaimana dengan kita yang sudah sibuk kuliah sambil bekerja plus'ngurusin' IMSA (**smile**)? Mana ada waktu untuk bercengkrama dengananak-anak? Sebenarnya ada waktu, jika kita mengetahui strateginya.Misalnya, sewaktu menemani anak bermain CD pendidikan di komputer, kitabisa menjelaskan cara mengerjakan/bermainnya, lalu memberi contohsebentar, lantas bisa kita tinggalkan. Begitu pula dengan buku bacaan danpermainan lainnya. Repotnya ada sebagian ayah yang tidak mau berkumpuldengan anak-anak, terutama yang menjelang dewasa karena takut kehilanganwibawa atau kharismanya. Ini pandangan yang keliru. Yang lebih tepatadalah kita jaga keseimbangan, artinya kita tidak boleh terlalu kaku dalammemegang kekuasaan dan kharisma, tetapi juga tidak boleh terlalu longgar.

5. Bijaksana Dalam Membimbing

Rasulullah SAW bersabda: "... Binasalah orang-orang yang berlebihan ..."(HR Muslim). Jadi metoda yang paling bijaksana dalam mendidik dan mengarahkan anak adalah yang konsisten dan pertengahan - seimbang, yaknitidak membebaskan anak sebebas-bebasnya dan tidak mengekangnya; janganterlalu sering menyanjung, namun juga jangan terlalu sering mencelanya.Bila ayah memerintahkan sesuatu kepada anaknya, hendaknya ayahmelakukannya dengan hikmah, penuh kasih sayang, dan tidak lupa membumbuinyadengan canda seperlunya. Jelaskan hikmah dan manfaatnya, sehingga anaktermotivasi untuk melakukannya. Jangan lupa juga untuk memperhatikankondisi anak dalam melaksanakan perintah atau aturan tersebut.Imam Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa melatih pribadi perlu kelembutan,tahapan dari kondisi yang satu ke kondisi yang lain, tidak menerapkankekerasan, dan berpegang pada prinsip pencampuran antara rayuan dan ancaman.

6. Berdoa

Para nabi selalu berdoa dan memohon pertolongan Allah untuk kebaikanketurunannya."Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeriini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucukudaripada menyembah berhala-berhala." (Ibrahim:35)"Segala puji bagi Allah yang telah menganugrahkan kepadaku di haritua(ku)Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar(memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucukuorang-orang yang tetap mendirikan sholat. Ya Tuhan kami, perkenankanlahdoaku." (Ibrahim:39-40)

Anugerah TERINDAH

OLEH: FITHRI

Anak lelaki itu berumur lima atau enam tahun. Ia mengenakan kemejaputih dan pullover kotak-kotak hijau dengan logo taman kanak-kanak didada kiri. Di bahunya tersandang tas punggung merah dan di dadanyatersilang tali botol minuman. Ia kelihatan lucu dan manis.Begitu naik ke dalam angkot, bocah itu menunjukkan hasil origaminyapada wanita yang mungkin ibunya. Seekor burung yang sedikit kusut danpenyok. Ia juga menyanyikan lagu baru yang diajari gurunya hari itu.Lihat ibu keretaku yang barucukup besar untuk ayah dan iburoda tiga buatanku sendiridari kulit buah jeruk bali..."Aku tersenyum geli mendengar suaranya yang agak sumbang tapi penuhsemangat. Bocah itu balas tersenyum padaku, kemudian kembali asyikmemberondong ibunya dengan berbagai cerita. Mulutnya tak hentimengunyah donat yang barangkali dibelikan ibunya di depan sekolah.Ibunya menyahut sesekali dengan anggukan atau gumaman setengah takpeduli, sementara tangannya mengibaskan lukisan krayon anaknya untukmenghalau panas.Aku tidak menyalahkannya. Cuaca siang itu memang panas dan kemacetanjalan membuat udara pengap. Melihat bungkusan yang terserak dikakinya, aku yakin ia telah menghabiskan paginya untuk berbelanjakebutuhan dapur. Tak heran ia kelihatan sangat letih, mengantuk dantak begitu bersemangat mendengar cerita anaknya di sekolah hari itu.Atmosfer yang menyengat tidak mengalihkan perhatianku dari anak itu.Kureguk tiap kata dan lagu yang dinyanyikannya seperti pengelanakehausan yang menemukan wadi di tengah gurun. Alangkah rindunya akuakan semua itu. Aku tak ingin membandingkan anakku dengan bocah lucudi angkot itu, tapi mau tak mau Khalid singgah ke dalam benakku danmerusak kenikmatanku.Setiap kali memeriksakan diri selama mengandung Khalid, bidan selalumengatakan kehamilanku normal dan bayiku sehat. Karena itu aku dansuami sama sekali tak siap waktu dokter memberi tahu bahwa Khalidtidak normal. Ia lahir dengan Down syndrome.Menyakitkan. Masa depan anakku sudah ditentukan oleh dokter hanyabeberapa menit setelah kelahirannya. Khalid tidak akan tumbuh sepertianak normal dan dia tidak akan bisa menjadi orang dewasa normal yangmampu mengurus dirinya sendiri.Selain itu dokter juga menemukan kelainan pada jantungnya yang harusdiperbaiki dengan pembedahan. Ada juga gangguan mata dan tonsil. Halyang menurut dokter biasa menimpa anak Down syndrome.Shock yang kualami setelah melahirkan Khalid cukup berat hingga akuharus dirawat agak lama di rumah sakit. Aku sangat tertekan hinggabahkan tak bisa menyusui Khalid. Dokter memperkenalkanku denganwanita pakar penanganan anak Down syndrome. Wanita itu memberikanbuku-buku dan brosur kepada kami.Tapi, semua yang kubaca malah semakin membuatku tertekan. Sejakdokter menyatakan bahwa aku positif mengandung, aku selalu berdoa danbermimpi tentang seorang anak yang cerdas dan lincah. Anak yang akankubimbing mengenal Allah dan Rasul-Nya. Yang akan kuajari mengaji danshalat agar ia bisa mendoakan kedua orang tuanya. Ia akan kubawatafakur alam ke tempat-tempatyang indah agar pandai bersyukur dan memiliki sifat tawadlu.Aku akan memperkenalkannya pada saudara-saudaranya yang yatim danpapa agar hatinya lembut dan peka. Yang akan mencintai buku-bukuseperti aku dan ayahnya. Anak yang akan jadi seorang pejuang di jalanAllah, demi kebangkitan dan kejayaan Islam seperti panglima gagahitu, Khalid bin Walid.Kubayangkan jari mungil anakku menyusuri huruf-huruf dalam lembaranmushaf Al Qur-an. Jika lelaki, ia pasti lucu dalam baju koko dan pecimungilnya dan jika perempuan, ia pasti manis dalam jilbab kecilnyayang berbunga dan berenda.Rasanya aku bahkan sudah bisa mendengar suaranya yang beningmelantunkan ayat-ayat suci itu. Suara terindah yang pernah kudengar.Lalu ke mana bisa kukubur kecewaku saat mendapati Khalid tak mungkinmewujudkan semua impianku. Aku hanya bisa berdoa siang malam memohonkekuatan. Aku mengintrospeksi diri, mengingat kembali apa yang telahkulakukan hingga Allah menghukumku dengan memberikan Khalid.Hingga suatu hari kalimat itu menohokku. Anakku adalah amanat-Nya,bukan hukuman, bukan aib. Hanya titipan, bukan milikku. Apakah akuberhak menggugat jika titipan-Nya ternyata tidak seperti anak-anaklain? Aku hanya ditugaskan menjaga dan mengasuhnya dengan cinta,karena ia dititipkan Allah yang rahman dan rahim-Nya tak pernah surutdari sisiku. Bukan tugasku menilai apakah Khalid layak jadi anakkuatau tidak. Setelah itu aku kembali menemukan ketenangan.Tapi tak urung kesedihan itu kerap. Sangat menyakitkan. Tiap kubawaKhalid ke dokter dan melihat ibu lain dengan bayi seumur Khalid, akukembali terbenam dalam kepiluan. Entah untuk Khalid atau untuk dirikusendiri.Bulan demi bulan berlalu. Sementara bayi lain mulai tertawa danmengeluarkan suara-suara lucu, Khalid hanya diam. Ia memandang kosongke depan.Tiap hari suamiku dan aku harus bergantian merangsang otaknya denganmainan warna-warna dan kerincingan yang ribut. Khalid barumenunjukkan reaksi saat usianya hampirdelapan bulan.Khalid baru belajar berjalan di usia dua tahun. Bicaranya tak pernahselancar anak-anak lain dan kosa katanya sangat terbatas. Ia tak bisamandi dan berpakaian sendiri hingga usianya hampir sembilan tahun. Iaharus disuapi tiap waktu makan sampai ia bisa makan sendiri beberapabulan terakhir ini.Yang paling menjengkelkan, sulit sekali membiasakannya buang air dikamar mandi walaupun aku dan suamiku sudah mengajarinya selamadelapan tahun dari sepuluh tahun usianya.Mengajari Khalid salat dan mengaji hampir tak mungkin. Khalid hanyabisa mengikuti gerakan-gerakan salat tanpa bisa menghafal bacaannya.Setelah beberapa lama, kami menyadari kesalahan kami dan mulai dariawal sekali. MengakrabkanKhalid dengan Allah dan Islam. Sesuatu yang lebih mudah dilakukan dandipahami Khalid."Di belakang rumah ada pohon jambuu..." suara lantang bocahberseragam TK diangkot itu mengembalikan perhatianku pada polahnyayang kocak. Tapi kali itu aku tak bisa menikmatinya tanpa merasa iri.Iri pada ibu yang tak menyadari besarnya nikmat Allah yangdimilikinya. Ada kegeraman dan rasa kasihan pada diri sendiri yangtiba-tiba bergolak dan menenggelamkanku.Membuat dadaku sesak dan leherku tercekik. Aku tak tahu apakah harusmenyesal atau gembira saat anak itu akhirnya turun dari angkot.Di bangku yang mereka tinggalkan kulihat burung-burungan kertas itugepeng. Kupungut dan kuperbaiki. Tiba-tiba mataku kabur oleh airmata. Khalid tak bisa melukis dengan krayon atau membuat origami.Koordinasi tangannya lemah sekali.Dalam kepalanku yang gemetar, burung-burungan itu kuremas menjadigumpalan kertas. Aku tak sanggup lagi menahan isak. Dengan suaratercekat kusuruh sopir berhenti. Kusodorkan ongkos dan turun,walaupun rumahku masih jauh.Aku duduk di halte yang sepi. Menarik nafas dalam-dalam danmengeringkan air mata. Saat aku menengadah mataku tertambat padapapan putih di seberang jalan. Sebuah masjid. Ya Allah, inikahteguran-Mu.? Aku menyeberang. Segera kuambil wudhu dan salat duarakaat. Air matakumenetes saat kubaca ayat kedua belas dari surat lukman...Anisykurlillahi....Usai mengucap salam aku tercenung. Kekalutan yang sempat menguasaisudah berhasil kukendalikan. Aku merasa kosong, tapi damai. Lalu satu-satu fragmen kehidupan Khalid mulai kembali ke dalam benakku. Bukangambaran muram tentang kekurangannya, tapi keistimewaan-keistimewaankecil yang mengimbangi dan melengkapi hidupnya.Khalid suka sekali musik. Ia sulit menangkap dan menghafal lirik,tapi kenikmatan yang terlukis di wajahnya saat mendengarkan musikadalah keindahan tersendiri. Ia juga tak pernah nakal dan usil,selalu ramah dan murah senyum. Ia tak pernah marah dan ngambek, danjika dimarahi, cepat kembali ceria.Ia sangat mencintai adiknya Fatimah, yang lahir empat tahun lalu.Kami sempat khawatir Khalid akan cemburu dengan kehadiran adiknya.Tapi ia malah antusias membantuku mengurus Fatimah. Sering kudapatiKhalid duduk menatap adiknya yang tertidur dengan ekspresi terpesonayang tak terlukiskan.Fatimah normal dan cerdas sekali tapi ia menerima abangnya tanpasyarat. Kemesraan diantara keduanya selalu menerbitkan syukur di hatiku dan ayah mereka.Mengurus Khalid memang menuntut kesabaran dan kegigihan ekstradibandingkan mengasuh anak biasa. Tapi Khalid memang bukan anakbiasa.Ia telah mengajarkan kepada kami makna mencintai tanpa pamrih yanghakiki. Di zaman saatorang memburu segala yang superlatif; tercantik, terpandai, tergesit,anakku tidak akan bisa bersaing. Ia tidak mungkin menjadi teknolog,ekonom atau da'i tersohor.Tapi apakah itu akan mengurangi cinta kami padanya?Mengurangi kegembiraan melihat prestasi-prestasi kecilnya yangdianggap remeh dan sepeleorang lain seperti bisa berpakaian dan makan sendiri? Aku dan ayahnyatak akan memperoleh apa-apa darinya. Kemungkinan besar Khalid akanterus tergantung pada kami. Dan setelah kami tak sanggup lagi,mungkin pada Fatimah.Tapi kami memang tak lagi mengharapkan apapun darinya. Kami hanyamencintainya.Kudorong gerbang rumah dan kuserukan salam. Sahutan riangmenyambutku. Pintu terkuak. Fatimah menghambur memelukku sementaraabangnya tersenyum lebar sambil berjalan goyah di belakangnya."Ibu bawa apa, bawa apa?" tanya Fatimah. Ia memekik ketikakukeluarkan sekantung mangga ranum dari keranjang belanjaku. Khalidtersenyum. Matanya yang semula kosong berbinar. Mangga adalah buahkesukaannya.Aku masuk ke kamar untuk berganti baju setelah berpesan pada pembantuuntuk mencuci dan mengupaskan mangga buat anak-anak. Saat aku keluar,mereka tidak berada di meja makan.Kupanggil mereka dan kudengar sahutan dari halaman belakang.Di depan kandang burung parkit Fatimah melonjak-lonjak dan tertawamelihat abangnya dengan sabar menyodorkan potongan mangga lewatjeruji bambu."Ayo kuning! Jangan diam saja! Tuh diambil si hijau deh!" teriakFatimah.Satu demi satu burung-burung parkit dalam kandang terbang menyambarpotongan mangga dari tangan Khalid. Aku bertasbih. Mataku pedih.Sudah lama aku mengamati keistimewaan Khalid untuk mencintai dengankeikhlasan yang bersih dari egoisme anak seusianya. Cintanya sangattulus pada burung-burung kesayangan suamiku, pada ikan hias dan ayamkate yang kami pelihara untuk mengajar anak-anak bertanggung jawab.Bahkan pada bunga-bungaku di kebun. Ia gembira mengurus semua itu,walaupun tak pernah mendapat imbalan apapun dari kami. Kelembutannyaterulur bahkan pada kucing-kucing liaryang sering diberinya makan atau anak-anak tetangga yang kerapmendapat bagiandari jatah kue dan buahnya tanpa menuntut balasan apapun.Aku memang tak punya alasan untuk bersedih dan kecewa. Khalid mungkintak bisa membaca dan mengaji. Tapi perasaannya halus dan penuh kasihsayang. Dan aku sangat bersyukur atas kelebihannya.

Tifatul Sembiring: Menikmati Hidup Bersama Dakwah


sumber :eramuslim
Sudah menjadi tradisi di internal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), setiap kader harus siap menerima amanah/tanggung jawab dari Majelis Syuro (MS), forum tertinggi partai. Diangkat atau diberhentikan oleh MS dari jabatan tertentu harus diterima dengan legowo dan ikhlas. Hal ini pula yang dialami Tifatul Sembiring, Ketua Umum PKS sekarang.
Menurutnya, semula ia tidak menduga jika partai berlambang bulan sabit kembar ini menyerahi amanah kepemimpinan. Tapi karena hal itu sudah menjadi kesepakatan para petinggi partai di Majelis Syuro amanah berat pun ia terima.
"Di PKS selalu seru sorong- sorongannya, saling menyilakan maju dan tidak ada kampanye untuk maju memimpin apalagi memakai politik uang," tutur direktur sebuah perusahaan penerbitan Asaddudin Pers itu.
Baginya jabatan bukanlah kesempatan untuk memupuk kekayaan atau berkuasa atas segalanya. Tapi jabatan adalah upaya untuk melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. "Dengan diamanahi beban jabatan ini, saya sendiri mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun," ujarnya.
Usai mendapat mandat baru itu, yang sebelumnya selama enam bulan juga ia terima sebagai pejabat sementara (Pjs.), laki-laki kelahiran Bukitinggi, Sumatera Barat ini langsung mengumpulkan keluarganya untuk bermusyawarah dan mohon do'a restu. Karena menurutnya, tugasnya sebagai ketua umum semakin bertambah dan besar. Terlebih lagi untuk menghadapi Pemilu 2009.
Lantaran itulah, suami dari Sri Rahayu itu kini hampir 24 jam nafas dan jiwanya diperuntukkan untuk dakwah. Dari pagi hingga menjelang pagi Tifatul mengkonsep, menformulasikan dan menggalang kekuatan dakwah. Ia terus menggenjot kader-keder inti partai yang terkenal dengan slogan "Clean and Care" ini melebarkan sayapnya ke tengah-tengan masyarakat.
Upaya ini dilakukan, diakuinya, karena tantangan dakwah ke depan semakin komplek dan berat. Jika tidak hati-hati dalam mengelola dakwah dan partai , bisa-bisa dakwah partai ala aktivis tarbiyah ini bisa buyar dan pencapaian target pun tak maksimal. Untuk itulah, ayah tujuh anak ini terus melakukan konsolidasi ke dalam mau pun keluar.
"Kita akan membentuk sub-sistem. Di Legislatif, misalnya, kita sudah punya TPA, Tim Pengelola Anggota Legislatif. Untuk eksekutif mungkin punya TPE. Selanjutnya pengelolaan kader, juga kita buat sistemnya, pengelolaan struktur juga kita buat sistemnya," terangnya.
Piawai dalam Analisa dan Lobi Politik
Sebagai alumnus di bidang Manajemen Informatika, geliat dan informasi partai-partai politik (parpol) turut menjadi perhatiannya. Sebab, dinamika parpol-parpol itu secara langsung atau tidak juga berpengaruh bagi PKS. Karena itu pula dinamika perkembangan di partai-partai besar seperti PDIP, Partai Golkar, PKB dan partai-partai Islam menjadi penting untuk diamati.
"Lingkungan eksternal kita juga berubah. Kita tentu akan mencari peluang-peluang kita, dan apakah itu nanti akan memberi nilai-nilai positif buat kita atau nilai-nilai positif yang berkembang dalam sistem yang mereka namakan demokrasi di Indonesia ini," papar Tifatul, yang juga mantan pegawai PT PLN di Pusat Pengaturan Beban Jawa, Bali, Madura.
Tidak hanya itu, Tifatul juga telah membuat kontrak dengan para anggota legislatif dari PKS untuk tetap mengedapankan akhlak Islami dalam berpolitik di parlemen. Maka tak heran, jika ada indikasi pelanggaran etika, maka tak segan-segan, pihaknya akan menjatuhkan sanksi.
Demikian pula halnya dengan kontrak politik dengan Pemerintahan SBY-Kalla. PKS sebagai the rullling party bersama pemerintahan SBY-Kalla berkomitmen terus mengawal sekaligus mengoreksi pemerintahan SBY-Kalla jika melenceng dari perjanjian. Makanya, setiap ada rencana pembuatan kebijakan publik, PKS selalu dilibatkan. Misal, soal pencalonan Komjen Sutanto menjadi Kapolri. "Juga bagaimana merespon setiap saat koalisi kita dengan pemerintah pusat, maupun koalisi di dalam Pilkada di banyak daerah," tuturnya.
Menghadapi situasi politik 2009 dan pemilu lokal (Pilkada), jauh-jauh hari Tifatul telah membuat dan merancang pemenangan jago-jagonya untuk bersaing dengan kandidat lain. Dia jugalah yang memetakan angka-angka perolehan suara kadernya. Setidaknya di 18 daerah ada kader PKS yang menjadi orang nomor satu atau dua di daerah yang bersangkutan. Walikota Kota Depok terpilih Nurmahmudi Ismail contohnya.
Selain di Depok, kader-kader PKS juga mendapat kepercayaan masyarakat di Serang, Bangka Barat, Sukabumi, Halmahera Selatan, Bandar Lampung, Bengkulu, Solok Selatan, Kota Semarang, Kota Pekalongan, Kota Rembang, Tanjung Pinang, Kep. Riau, "Dan , insya Allah di Banjarmasin," katanya.
Melihat perkembangan yang positif ini, Tifatul berharap PKS pada Pemilu 2009 bisa leading menjadi partai dua besar. Tenaga, pikiran, kader dan semua kekuatan akan dikerahkan untuk mensukseskan cita-cita besar itu. Alhasil PKS pada Pemilu mendatang mampu meraup 22 juta suara. Modal inilah yang barang kali akan dijadikan stand by partai yang berkantor di bilangan Mampang Prapatan untuk mengajukan calon presiden dari kadernya.
Rencana spektakuler ini bukanlah sekadar mimpi. Dalam hitungan yang sederhana dan riil, PKS pada Pemilu 2004, kemarin, telah membuktikanya. "Jadi kita melompat dari yang impossible, dari 1,4 juta suara ke 8,3 juta. Ini artinya melompat 6 kali lebih. Kader pun melompat hampir 20 kali lipat. Nah, bagaimana me-maintance-nya. Begitu juga legislatif dari 191 orang menjadi 1.112 orang, juga melompat 10 kali," papar laki-laki yang pernah belajar ilmu politik internasional di Islamabad, Pakistan itu.
Karena itu pula, Tifatul berujar, selain ingin mendongkrak perolehan suara sampai 20%, pihaknya juga berharap jumlah anggota legislatif (aleg) PKS naik meroket. Misal, dari angka 1.112 menjadi 3.500 aleg.
Sebagai partai dakwah, dituturkannya, PKS tidak mau terbuai dengan perebutan kekuasaan semata. Lantaran itu, kendati pemilu sudah usai, partai ini tetap terus berkiprah di masyarakat. Ketika gempa bumi datang, busung lapar dan polio dan muntaber menyapa anak-anak Indonesia, ratusan kader PKS secepat kilat dikirim ke daerah-daerah tersebut. "Kita turun sangat intensif. Juga di Nabire, Alor, Poso, Nias juga. Kita kirim ratusan relawan, ada dokter 20 orang. Kita kan tetap care (peduli) yang demiikian," katanya.

Nafas dan Keluarganya untuk Dakwah
Kegigihan dan keuletan berdakwah ini, sering membuat mantan Ketua Wilayah Dakwah (Wilda) I PKS itu istirahat (tidur) hanya beberapa jam. Pasalnya, ia harus pulang ke rumah sudah larut malam. Istirahat sehari-semalam cuma 2 sampai dengan 4 jam. "Iya kadang-kadang begitu," katanya singkat.
Kendati demikian, urusan keluarga tak pernah ia abaikan. Sisa-sisa waktun yang ada ia selipkan untuk bercanda dan silaturahmi dengan anak, istri, keluarga serta tetangga.
"Biasanya saya pagi-pagi menyiapkan waktu bertemu dengan anak. Karena saya masih mengantarkan mereka dengan motor ke sekolah. Ini untuk menjaga keakarban dengan mereka supaya perasaan punya ayah itu masih kuat. Saya cari waktu untuk mengajak jalan-jalan," kisah Tifatul.
Karena itu pula, dakwah sudah menjadi bagian hidup Tifatul. "Kesibukan seorang da'i itu hampir nyaris tidak kenal waktu. Kapan saja harus siap," ujarnya menambahkan.
Keluarga Tifatul memang sudah terbiasa kehidupan seperti ini. Maklum di antara mereka saling memahami. Apalagi, Tifatul di mata keluarganya adalah figur da'i yang dan pemimpin rumah tangga yang bersahaja dan bijaksana.
Menekuni dakwah dan partai bagi Tifatul dan keluarganya adalah kenikmatan tersendiri. Justru dari sinilah kebahagiaan itu mudah diraih dan dinikmati oleh banyak orang. "Alhamdulillah setahap demi setahap kita melihat perkembangan yang bagus," urainya.
Walupun sibuk aktif berdakwah dan berpartai laki-laki kelahiran 28 September 1961 ini juga tetap mengomandani bisnis penerbitan buku yang didirikannya, Asaduddin Press. Tapi setelah pucuk estafet kepemimpinan PKS ada di pundaknya, otomatis waktu untuk mengurus bisnisnya tinggal sedikit. "Sejak saya memegang amanah di partai ini, sudah agak kurang waktu ke sana. Tapi masih jalan terus," tutur mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) ini.
Soal dunia dakwah, diakui Tifatul, sejak remaja ia sudah terlibat aktif di remaja mushalla dan masjid. Kegiatan itu kemudian ia asah terus sampai di bangku kuliah. Demikian juga setelah lulus dari kampus. Selesai menyelesaikan S1-nya di Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIK) Trisakti, ia bergabung dengan tokoh-tokoh dakwah dan tarbiyah. Antara lain bergabung dengan Yayasan Pendidikan Nurul Fikri dan Korps Mubaligh Khairu Ummah.
Saat menimba ilmu bidang International Politic Center for Asian Studies Strategic di Islamabad, Pakistan, mantan Humas DPP Partai Keadilan (PK), ini tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berguru, berdialog, tukar pikiran dan menambah wawasan dari ulama-ulama dan gerakan dakwah setempat. Wajar kemudian, bila Tifatul sejak awal ikut membidani berdirinya PK, embrio PKS.
Dan dapat dimaklumi pula jika dalam perjalanan kepemimpinan partai yang dikenal bersih dari korupsi ini selalu mendapat amanah yang strategis. Sebelum dibai'at secara aklamasi oleh Majelis Syuro yang berjumlah 49 dari perwakilan tiap daerah di seluruh Tanah Air dan lembaga-lembaga tinggi partai sebagai Ketua Umum PKS, ia pernah diserahi amanah Pjs. Ketua Umum, Ketua DPP Wilda I yang meliputi seluruh pulau Sumatera, dan Humas Partai.
Tak Ada Cita-cita Jadi Politisi
Tifatul mengungkapkan, sejak kecil dirinya tidak ada cita-cita untuk menjadi politisi. Tapi berkat pergaulan di antara dan bersama kolega-koleganya sesama aktivis Islam itulah yang membuatnya melebur dan mengkristal mendirikan partai politik. "Tidak ada (jadi politisi, red). Kita berpolitik juga baru ketika ada PK. Saya salah seorang pendirinya. Kita ingin memperbaiki keadaan," tuturnya memberi alasan.
Dalam dunia politik, pengalamannya memang tergolong masih baru. Tapi, asal boleh tahu, pria yang murah senyum ini, jago lobi dan mengalisisa peta politik. Sebut saja misalnya, mengapa PKS dalam Pilpres putaran II mendukung SBY-Kalla. Karena sejak semula, yakni pada putaran I, Tifatul juga sudah cenderung ke capres yang diusung Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Tapi, karena Majelis Syuro belum sepakat dengan pandangan dan analisanya, maka pilihan jatuh ke Amien-Siswono. Fakta menunjukkan, feelling dan insting politik Tifatul menjadi kenyataan.
Karena kepiawaiannya dalam main politik inilah, wajar saja kalau kemudian pada bulan akhir Mei 2005, kemarin, ia dikukuhkan untuk meneruskan tugasnya sebagai penggerak gerbong partai yang memeliki kursi di DPR 45 aleg itu. Ia juga dikenal sebagai pemimpin partai yang pekerja keras. "Tapi saya juga bisa lembut," tukasnya dengan logat Batak.
Di mata Ketua Kebijakan Publik DPP PKS, Tb. Sumanjaya, Tifatul adalah sosok yang mampu melanjutkan visi-misi partai. "Ia memenuhi standar untuk menjadi Ketua Umum," ujarnya.
Anggota Majelis Pertimbangan Partai (MPP) itu menilai, kinerja Tifatul selama ini tidak mengecewakan partai. "Manajemen informasinya bagus," sambungnya.
Hal senada juga disampaikan pengurus DPD PKS Jakarta Selatan Nur Aulia. Menurutnya, Tifatul adalah figur yang meyenangkan bila diajak bicara, baik ia sudah kenal dengan orang itu maupun belum. "Ia familiar, sederhana dan mau mendengar pihak lain," imbuhnya.
Sebagai Ketua Umum Partai, ia didampingi Anis Matta sebagai Sekjen, Dr. Surahman Hidayat sebagai Ketua Dewan Syari’ah Pusat (Maktab Haiah Syar’iyah, Mufti ’Am dan Qodhi ’Am), Drs. Suharna Surapranata sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (Maktab Isytisyari, Drs. Mahfudz Abdurrahman sebagai Bendahara Umum, dan KH Hilmi Aminuddin sebagai Ketua Majelis Syuro. (sdn).

Thursday, July 07, 2005

BERBAGI 4JJl


copy paste dr muslim blog milist

Ada cerita menarik dari salah seorang rekan saya, InsyaAllah kita dapat memetik manfaat dari cerita ini...

BERBAGI Allah

Hari ini Zara Bella tidak ada kegiatan baik di library ataupun community center. Maunya saya sih ngadem aja di halaman belakang. Kebetulan di belakang ada kolam kecil buat ZaBel main air, nah..kalo kita mau ke halaman belakang, ZaBel langsung buru-buru naik tangga sendiri ke kamarnya dan mengambil baju berenangnya sendiri di lemari. Semua itu biasanya terjadi dengan saya hanya berdiri di pintu belakang...kalo saya mulai keluar ke halaman, ZaBel tidak mau ikut keluar tanpa dirinya memegang baju renang, saya pancing peke bebek-bebekan di kolam juga dia tidak mau....Serba salah kan..? apalagi pagi tadi saya bener-bener lagi ngga mood main di air sama ZaBel.Jadi saya putuskan untuk main di taman dekat rumah saja, yang letaknya dekat sekali dengan sekolah umum untuk anak TK-SD-SMP.Di sana saya bertemu dengan Brooke, kali ini tanpa Casey-ibunya, tapi dengan Baby sitter-nya, Miss Polly. Miss Polly is a very nice old lady...Saat kami bermain, waktunya bersamaan dengan waktu istirahat sekolah, sekitar jam 12-an. "Aduuuuh...rame banget deh!"pikir saya. Saya memang malas kalau bermain di taman yang ramai sekali. Ngga tau kenapa. "Bel, pulang yuk...entar-entaran kita balik lagi, rese nih mulai rame,"ajak saya. Tapi, ZaBel malah lari menjauh, berdua-dua dengan Brookie Brooke."Ya sutralah hai...tapi jangan jauh-jauh ya Bel, Ummi lagi ngga eMood nih..."tawar saya karena ZaBel tidak mau diajak pulang. Namanya juga ZaBel, ibunya memperingati jangan lari jauh-jauh..eeeeh...doi malah ngeledek saya dengan berlari semakin menjauh sambil dadah-dadah dan kiss bye-kiss bye. Brookie sih hanya pasrah ngikutin ZaBel.Akhirnya, saya dudukan ZaBel di ayunan, Alhamdulillah, ngga complaint. Tidak jauh dari swing area, ada anak-anak SD sekitar umur 9 tahunan, semua perempuan, duduk membentuk lingkaran di rumput, sambil makan siang. Saya perhatikan...wuuiih...pada kompak amat ya pake celana 3/4, warna aja yang beda. Ada satu gadis berkerudung, celananya lain sendiri, celana full panjang. Saya perhatikan lagi...kayanya caucasia...kayanya india...kayanya timteng...ah, whatever deh... Subhanallah, cantik sekali..."Semoga akhlaknya juga secantik rupanya," harap saya untuk gadis cantik itu.Karena mereka duduk tidak jauh, maka saya bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas. Saya tahu mereka membicarakan tentang makan siang yang rendah kalori, ada yang nyeletuk,"That's why I only eat the granola bar my mum put in my lunch pack.""Are you serious it's gonna make me slim?"tanya kawannya yang rada chubby."Sure, and just for your mum wont find out, put everything else in your pack to garbage!" saran gadis granola bar. Hah...? ngebuang makanan...? sayang amirrr...celetuk saya dalam hatiSaya juga tahu mereka membicarakan Canadian Idol yang sekarang baru mulai, lalu Joan of Arcadia, lalu tentang Simon Cowell, juri American Idol.Lalu tentang Brandon Ho, kawan ganteng mereka yang keturunan Jewish-Italy-China,sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya , saya jadi ikut-ikutan nengok deh, soalnya keasyikan nguping ^_^"What a hunk!" salah seorang di antara mereka nyeletuk."Look at his hair, soooo sandy!"Saya jadi ikutan nengok lagi ke si Ho...iih..emang ganteng bo'!Obrolan terakhir tentang lucky charm, mereka niat tukar-tukaran lucky charm selama seminggu. Saya jadi benar-benar penasaran. Soalnya waktu SD dulu lucky charm saya adalah sisir vidaal kecil warna merah muda. Karena tidak tahan nguping doang, akhirnya saya berbalik badan, ZaBel juga saya balikkin arah duduknya di ayunan, jadi selain nguping, sekalian spy-ing hi hi...jail ya...? Untungnya, saya pakai sun glasses, jadi arah bola mata saya ke mana-mana ngga ketauan!Ada yang ngeluarin batu kali, sisir (ada temennya deh saya), ekor kelinci yang berbentuk gantungan kunci, boneka, pulpen bulu, lip balm, kaos kaki yang hanya sebelah, frame foto, jam tangan, kalung, bandana, sepatu bayi, sampai bungkus permen.Mereka tuker-tukeran sambil mengemukakan alasan mengapa benda itu yang dipilih."This is my baby shoes, because of this I still alive.""I got this stone when I almost fell at the trailer with my dad, we were going fishing.""This bunny tail is from my grandma.""If I didnt put this lip balm on my lips, I wont feel preety for the whole day."Segitu aja yang saya ingat. Tinggal si gadis cilik berjilbab itu, ia tidak mengeluarkan apa-apa. "Where is yours?"kata kawannya, sepertinya sih dia yang paling mendominasi."My lucky charm is with me, but invisible"jawabnya."What is it?" tanya yang lain"Allah.""What is that?""My mum said it's God. Every morning when I woke up and mention His name, Im sure the rest of my day will be fine. Im sorry I cant present my lucky charm like you present yours. I cant give Him to you, because I need Him, but if you guys want, you could share Allah with me." terang gadis kecil berkerudung ini.Saya yang mendengar penjelasan si cantik langsung tertohok...bengong...anak kecil itu yang ngomong!Saya tersadar saat ZaBel teriak-teriak "kum...kum..." (Assalamualaikum maksudnya), karena ayunannya berhenti mengayun.Gadis-gadis SD tersebut beranjak bangun dari rumput. Saya dekati si cantik. "What's your name, honey?"tanya saya. "Khadijah,"jawabnya"You know, you are really a smart girl. Im sure your parents are so blessed..""Thanks, I gotta go.""Wait...your name is so beautiful, as you are,"puji saya, tulus dari hati."Assalamualaikum,"pamit si cantik Khadijah."Waalaikum salaam warahmatullah,"seiring kepergiannya, saya benar-benar berdoa rahmat Allah selalu menyertainya.Kawan, saat saya mengetik sekarang, berbagi dengan dunia tentang kesalehan Khadijah, jari-jari saya gemetar, menyadari saya yang sudah begitu pelit, tidak mau berbagi Allah dengan malasnya saya berdakwah, walau hanya seayat. Saya benar-benar berharap agar saya tidak malu dan gengsi untuk belajar dari si cantik Khadijah, yang tidak pelit berbagi Tuhannya.Saya yakin, Allah pun tidak keberatan.

Fiqh Prioritas

PRIORITAS ILMU ATAS AMAL
oleh Dr. Yusuf Qardhawi

DI ANTARA pemberian prioritas yang dibenarkan oleh agama ialahprioritas ilmu atas amal. Ilmu itu harus didahulukan atasamal, karena ilmu merupakan petunjuk dan pemberi arah amalyang akan dilakukan. Dalam hadits Mu'adz disebutkan, "ilmu,itu pemimpin, dan amal adalah pengikutnya."Oleh sebab itu, Imam Bukhari meletakkan satu bab tentang ilmudalam Jami' Shahih-nya, dengan judul "Ilmu itu MendahuluiPerkataan dan Perbuatan." Para pemberi syarah atas buku inimenjelaskan bahwa ilmu yang dimaksudkan dalam judul itu harusmenjadi syarat bagi ke-shahih-an perkataan dan perbuatanseseorang. Kedua hal itu tidak dianggap shahih kecuali denganilmu; sehingga ilmu itu didahulukan atas keduanya. Ilmulahyang membenarkan niat dan membetulkan perbuatan yang akandilakukan. Mereka mengatakan: "Bukhari ingin mengingatkanorang kepada persoalan ini, sehingga mereka tidak salahmengerti dengan pernyataan 'ilmu itu tidak bermanfaat kecualidisertai dengan amal yang pada gilirannya mereka meremehkanilmu pengetahuan dan enggan mencarinya."Bukhari mengemukakan alasan bagi pernyataannya itu denganmengemukakan sebagian ayat al-Qur'an dan hadits Nabi saw: "Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas dosa orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan..." (Muhammad: 19)Oleh karena itu, Rasulullah saw pertama-tama memerintahkanumatnya untuk menguasai ilmu tauhid, baru kemudian memohonkanampunan yang berupa amal perbuatan. Walaupun perintah di dalamayat itu ditujukan kepada Nabi saw, tetapi ayat ini jugamencakup umatnya.Dalil yang lainnya ialah ayat berikut ini: "... Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama..." (Fathir: 28)Ilmu pengetahuanlah yang menyebabkan rasa takut kepada Allah,dan mendorong manusia kepada amal perbuatan.Sementara dalil yang berasal dari hadits ialah sabdaRasulullah saw: "Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka dia akan diberi-Nya pemahaman tentang agamanya."2Karena bila dia memahami ajaran agamanya, dia akan beramal,dan melakukan amalan itu dengan baik.Dalil lain yang menunjukkan kebenaran tindakan kitamendahulukan ilmu atas amal ialah bahwa ayat yang pertama kaliditurunkan ialah "Bacalah." Dan membaca ialah kunci ilmupengetahuan; dan setelah itu baru diturunkan ayat yangberkaitan dengan kerja; sebagai berikut: "Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah." (al-Muddatstsir: 1-4)Sesungguhnya ilmu pengetahuan mesti didahulukan atas amalperbuatan, karena ilmu pengetahuanlah yang mampu membedakanantara yang haq dan yang bathil dalam keyakinan umat manusia;antara yang benar dan yang salah di dalam perkataan mereka;antara perbuatan-perbuatan yang disunatkan dan yang bid'ahdalam ibadah; antara yang benar dan yang tidak benar di dalammelakukan muamalah; antara tindakan yang halal dan tindakanyang haram; antara yang terpuji dan yang hina di dalam akhlakmanusia; antara ukuran yang diterima dan ukuran yang ditolak;antara perbuatan dan perkataan yang bisa diterima dan yangtidak dapat diterima.Oleh sebab itu, kita seringkali menemukan ulama pendahulu kitayang memulai karangan mereka dengan bab tentang ilmupengetahuan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Imam al-Ghazaliketika menulis buku Ihya' 'Ulum al-Din; dan Minhaj al-'Abidin.Begitu pula yang dilakukan oleh al-Hafizh al-Mundziri denganbukunya at-Targhib wat-Tarhib. Setelah dia menyebutkanhadits-hadits tentang niat, keikhlasan, mengikuti petunjukal-Qur'an dan sunnah Nabi saw; baru dia menulis bab tentangilmu pengetahuan.Fiqh prioritas yang sedang kita perbincangkan ini dasar danporosnya ialah ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan kitadapat mengetahui apa yang mesti didahulukan dan apa yang harusdiakhirkan. Tanpa ilmu pengetahuan kita akan kehilangan arah,dan melakukan tindakan yang tidak karuan.Benarlah apa yang pernah diucapkan oleh khalifah Umar bin Abdal-Aziz, "Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan tanpa ilmupengetahuan tentang itu maka apa yang dia rusak lebih banyakdaripada apa yang dia perbaiki."3Keadaan seperti ini tampak dengan jelas pada sebagian kelompokkaum Muslimin, yang tidak kurang kadar ketaqwaan, keikhlasan,dan semangatnya; tetapi mereka tidak mempunyai ilmupengetahuan, pemahaman terhadap tujuan ajaran agama, danhakikat agama itu sendiri.Seperti itulah sifat kaum Khawarij yang memerangi Ali bin AbuThalib r.a. yang banyak memiliki keutamaan dan sumbangankepada Islam, serta memiliki kedudukan yang sangat dekatdengan Rasulullah saw dari segi nasab, sekaligus menantubeliau yang sangat dicintai oleh beliau. Kaum Khawarijmenghalalkan darahnya dan darah kaum Muslimin yang mendekatkandiri mereka kepada Allah SWT.Mereka, kaum Khawarij ini, merupakan kelanjutan dariorang-orang yang pernah menentang pembagian harta yang pernahdilakukan oleh Rasulullah saw, yang berkata kepada beliaudengan kasar dan penuh kebodohan: "Berbuat adillah engkauini!" Maka beliau bersabda, "Celaka engkau! Siapa lagi yangadil, apabila aku tidak bertindak adil. Kalau aku tidak adil,maka engkau akan sia-sia dan merugi. "Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Sesungguhnya perkataan kasaryang disampaikan kepada Rasulullah saw ialah 'WahaiRasulullah, bertaqwalah engkau kepada Allah." Maka Rasulullahsaw menyergah ucapan itu sambil berkat, "Bukankah aku penghunibumi yang paling bertaqwa kepada Allah?"Orang yang mengucapkan perkataan itu sama sekali tidakmemahami siasat Rasulullah saw untuk menundukkan hatiorang-orang yang baru masuk Islam, dan pengambilan berbagaikemaslahatan besar bagi umatnya, sebagaimana yang telahdisyari'ahkan oleh Allah SWT dalam kitab suci-Nya. Rasulullahsaw diberi hak untuk melakukan tindakan terhadap shadaqah yangdiberikan oleh kaum Muslimin. Lalu bagaimana halnya denganharta pampasan perang?Ketika sebagian sahabat memohon izin kepada Rasulullah sawuntuk membunuh para pembangkang itu, beliau yang muliamelarangnya; kemudian memperingatkan mereka tentang munculnyakelompok orang seperti itu dengan bersabda: "Kalian akan meremehkan (kuantitas) shalat kalian dibandinglan dengan shalat yang mereka lakukan, meremehkan (kuantitas ) puasa kalian dibandingkan dengan puasa yang mereka lakukan; dan kalian akan meremehkan (kuantitas) amal kalian dibandingkan dengan amal mereka. Mereka membaca al-Qur'an tetapi tidak lebih dari kerongkongan mereka. Mereka menyimpang dari agama (ad-Din) bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya."Makna ungkapan "fidak lebih dari kerongkongan mereka" ialahbahwa hati mereka tidak memahami apa yang mereka baca, danakal mereka tidak diterangi dengan bacaan ayat-ayat itu.Mereka sama sekali tidak memanfaatkan apa yang mereka bacaitu, walaupun mereka banyak mendirikan shalat dan melakukanpuasa.Di antara sifat yang ditunjukkan oleh Nabi tentang kelompokitu ialah bahwa, "Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala."4Kesalahan fatal yang dilakukan oleh mereka bukanlah terletakpada perasaan dan niat mereka, tetapi lebih berada pada akalpikiran dan pemahaman mereka. Oleh karena itu, merekadikatakan dalam hadits yang lain sebagai: "Orang-orang muda yang memilih impian yang bodoh." 5Mereka baru diberi sedikit ilmu pengetahuan, dengan pemahamanyang tidak sempurna, tetapi mereka tidak mau memanfaatkankitab Allah padahal mereka membacanya dengan sangat baik,tetapi bacaan yang tidak disertai dengan pemahaman. Mungkinmereka memahaminya dengan cara yang tidak benar, sehinggabertentangan dengan maksud ayat yang diturunkan oleh AllahSWT.Oleh karena itu, Imam Hasan al-Bashri memperingatkan orangyang tekun beribadah dan beramal, tetapi tidak membentenginyadengan ilmu pengetahuan dan pemahaman. Dia mengucapkanperkataan yang sangat dalam artinya, "Orang yang beramal tetapi tidak disertai dengan ilmu pengetahuan tentang itu, bagaikan orang yang melangkahkan kaki tetapi tidak meniti jalan yang benar. Orang yang melakukan sesuatu tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu itu, maka dia akan membuat kerusakan yang lebih banyak daripada perbaikan yang dilakukan. Carilah ilmu selama ia tidak mengganggu ibadah yang engkau lakukan. Dan beribadahlah selama ibadah itu tidak mengganggu pencarian ilmu pengetahuan. Karena ada sebagian kaum Muslimin yang melakukan ibadah, tetapi mereka meninggalkan ilmu pengetahuan, sehingga mereka keluar dengan pedang mereka untuk membunuh umat Muhammad saw. Kalau mereka mau mencari ilmu pengetahuan, niscaya mereka tidak akan melakukan seperti apa yang mereka lakukan itu."6ILMU MERUPAKAN SYARAT BAGI PROFESI KEPEMIMPINAN(POLITIK, MILITER, DAN KEHAKIMAN)Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuanmerupakan syarat bagi semua profesi kepemimpinan, baik dalambidang politik maupun administrasi. Sebagaimana yang dilakukanoleh Yusuf as ketika berkata kepada Raja Mesir: " ... sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami." Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (Yusuf: 54-55)Yusuf as menunjukkan keahliannya dalam pekerjaan besar yangditawarkan kepadanya, yang mencakup pengurusan keuangan,ekonomi, perancangan, pertanian, dan logistik pada waktu itu.Yang terkandung di dalam keahlian itu ada dua hal; yaknipenjagaan (yang lebih tepat dikatakan "kejujuran") dan ilmupengetahuan (yang dimaksudkan di sini ialah pengalaman dankemampuan). Kenyataan itu sesuai dengan apa yang dikatakanoleh salah seorang anak perempuan Nabi besar dalam surahal-Qashash: "... karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (al-Qashash: 26)Ia juga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam dunia militer;sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT ketika memberikanalasan bagi pemilihan Thalut sebagai raja atas bani Israil: "... Nabi (mereka) berkata, "Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu pengetahuan yang luas dan tubuh yang perkasa..." (al-Baqarah, 247)Pedoman itu juga sepatutnya diberlakukan dalam duniakehakiman, sehingga orang-orang yang hendak diangkat menjadihakim diharuskan memenuhi syarat seperti syarat yangdiberlakukan bagi orang yang hendak menjadi khalifah. Untukmenjadi hakim itu tidak cukup hanya dengan menyandang sebagaiulama yang bertaqlid kepada ulama lainnya. Karena padadasarnya, ilmu pengetahuan merupakan kebenaran itu sendiridengan berbagai dalilnya, dan bukan ilmu pengetahuan yangdiberitahukan oleh Zaid atau Amr. Orang-orang yang bertaqlidkepada manusia yang lainnya tanpa ada alasan yang membenarkantindakannya, atau ada alasannya tetapi sangat lemah, makaorang itu dianggap tidak mempunyai ilmu pengetahuan.Keputusan hukum yang diterima dari orang yang melakukantaqlid, adalah sama dengan kekuasaan yang dilakukan oleh orangyang tidak mempunyai ilmu pengetahuan, yang sangat penting.Akan tetapi ada batasan-batasan tertentu dan minimal bagi ilmupengetahuan yang mesti dikuasai oleh hakim itu. Jika tidak,maka dia akan membuat keputusan hukum berdasarkan kebodohandan akan menjadikannya sebagai penghuni neraka.Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah dariRasulullah saw bersabda, "Ada tiga golongan hakim. Dua golongan berada di neraka, dan satu golongan lagi berada di surga. Yaitu seorang yang mengetahui kebenaran kemudian dia membuat keputusan hukum dengan kebenaran itu, maka dia berada di surga. Seorang yang memberikan keputusan hukum yang didasarkan atas kebodohannya, maka dia berada di neraka. Kemudian seorang yang mengetahui kebenaran tetapi dia melakukan kezaliman dalam membuat keputusan hukum, maka dia berada di neraka."7PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN BAGI MUFTI (PEMBERI FATWA)Persoalan yang serupa dengan kehakiman ialah pemberian fatwa.Seseorang tidak boleh memberikan fatwa kepada manusia kecualidia seorang yang betul-betul ahli dalam bidangnya, danmemahami ajaran agamanya. Jika tidak, maka dia akanmengharamkan yang halal dan menghalalkan hal-hal yang haram;menggugurkan kewajiban, mewajibkan sesuatu yang tidak wajib,menetapkan hal-hal yang bid'ah dan membid'ahkan hal-hal yangdisyariahkan; mengkafirkan orang-orang yang beriman danmembenarkan orang-orang kafir. Semua persoalan itu, atausebagiannya, terjadi karena ketiadaan ilmu dan fiqh. Apalagibila hal itu disertai dengan keberanian yang sangat berlebihandalam memberikan fatwa, serta melanggar larangan bagi siapayang mau melakukannya. Hal ini dapat kita lihat pada zamankita sekarang ini, di mana urusan agama telah menjadi barangsantapan yang empuk bagi siapa saja yang mau menyantapnya;asal memiliki kemahiran dalam berpidato, keterampilan menulis;padahal al-Qur'an, sunnah Nabi saw, dan generasi terdahuluumat ini sangat berhati-hati dalam menjaga hal ini. Tidak adaorang yang berani melakukan hal itu kecuali orang-orang yangbenar-benar mempunyai keahlian di dalam bidangnya, sertamemenuhi syarat untuk persoalan tersebut. Betapa sulitsebenarnya untuk memenuhi syarat-syarat itu.Sebenarnya Nabi saw sangat tidak suka kepada orang yangtergesa-gesa memberikan fatwa pada zamannya. Ada sebagianorang yang memberikan fatwa kepada salah seorang di antaramereka yang terluka ketika mereka berjinabat untuk mandi,tanpa mempedulikan luka yang dideritanya. Sehingga hal itumenyebabkan kematiannya. Maka Rasulullah saw bersabda, "Karena mereka telah membunuhnya, maka semoga Allah akan membunuh mereka! Tidakkah mereka bertanya apabila mereka tidak tahu. Sebenarnya kalau mereka mau bertanya, maka orang itu bisa sembuh. Sebenarnya bagi orang seperti itu hanya cukup bertayammum saja..." 8Lihatlah bagaimana Rasulullah saw menganggap bahwa fatwa yangdiberikan oleh mereka sama dengan pembunuhan terhadap orangtersebut, sehingga beliau mendoakan mereka, "Semoga Allah jugamembunuh mereka." Oleh karena itu, fatwa yang keluar darikebodohan dapat membunuh jiwa dan membawa kerusakan. Dan padaakhirnya, Ibn al-Qayyim dan ulama yang lainnya sepakat untukmengharamkan pemberian fatwa dalam urusan agama tanpa disertaidengan ilmu pengetahuan; berdasarkan firman Allah SWT: "... dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (al-A'raf: 33)Banyak sekali hadits, qaul sahabat, dan generasi terdahuluumat ini yang melarang pemberian fatwa bagi orang-orang yangtidak berilmu pengetahuan.Ibn Sirin berkata, "Seorang lelaki yang mati dalam keadaanbodoh itu lebih baik daripada dia mati dalam keadaan berkatatentang sesuatu yang dia tidak mempunyai ilmu pengetahuantentang itu."Abu Hushain al-Asy'ari berkata, "Sesungguhnya salah seorang diantara mereka ada yang memberi fatwa dalam suatu masalah. Jikahal ini berlaku pada zaman Umar, maka dia akan mengumpulkanpara pejuang Perang Badar."Lalu, bagaimana bila Umar melihat keberanian orang pada zamankita sekarang ini?Ibn Mas'ud dan Ibn 'Abbas berkata, "Barangsiapa memberi fatwakepada orang ramai tentang apa saja yang mereka tanyakankepadanya, maka dia termasuk orang gila."Abu Bakar berkata, "kangit mana yang melindungi diriku danbumi mana yang akan menjadi tempat pijakanku, kalau akumengatakan sesuatu yang tidak kuketahui."Ali berkata, "Hatiku menjadi sangat tenang --diamengucapkannya sebanyak tiga kali-- bila ada seorang lelakiyang ditanya tentang sesuatu yang dia ketahui, tetapi diatetap mengatakan, 'Allah yang Maha Tahu.'"Ibn al-Musayyab, tokoh senior tabi'in, apabila dia hendakmemberikan fatwa dia berkata, "Ya Allah, selamatkan aku, danbenarkan apa yang keluar dari diriku."Semua ini menunjukkan bahwa kita perlu sangat berhati-hatidalam memberikan fatwa. Selain itu, fatwa harus diberikan olehorang-orang yang betul-betul memiliki ilmu pengetahuan,wawasan yang luas, wara', yang menjaga diri dari setiapkemaksiatan, tidak menuruti hawa nafsunya sendiri atau hawanafsu orang lain.Atas dasar uraian tersebut, sangatlah mengherankan bila parapelajar ilmu syariah --kebanyakan pelajar yang baru masuk padafakultas ini-- tergesa gesa memberikan fatwa dalam berbagaipersoalan yang sangat pelik, problema yang sangat penting,mendahului para ulama besar, dan bahkan berani menentang paraimam mazhab besar, para sahabat yang mulia, denganmenyombongkan diri seraya mengatakan, "Mereka orang lelaki,dan kamipun orang lelaki."Pertama-tama yang diperlukan oleh seseorang yang hendakmemberikan fatwa ialah mengukur kemampuan dirinya sendiri,kemudian memahami berbagai tujuan syari'ah, memahami hakikatdan kenyataan hidup. Akan tetapi,sangat disayangkan bahwamereka tertutup oleh penghalang yang sangat besar, yaituketertipuan dengan diri mereka sendiri. Sesungguhnya tiadadaya dan kekuatan kecuali dari Allah SWT.PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN BAGI DA'I DAN GURU (MUROBI)Jika ilmu pengetahuan harus dimiliki oleh orang yang bergelutdalam dunia kehakiman dan fatwa, maka dia juga diperlukan olehdunia da'wah dan pendidikan. Allah SWT berfirman: "Katakanlah: "Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata..." (Yusuf: 108)Setiap juru da'wah --dari pengikut Nabi saw-- harus melandasida'wahnya dengan hujjah yang nyata. Artinya, da'wah yangdilakukan olehnya mesti jelas, berdasarkan kepadahujjah-hujjah yang jelas pula. Dia harus mengetahui akandibawa ke mana orang yang dida'wahi olehnya? Siapa yang diaajak? Dan bagaimana cara dia berda'wah?Oleh karena itu, mereka berkata tentang orang rabbani: yaituorang yang berilmu, beramal, dan mengajarkan ilmunya;sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah SWT: "... akan tetapi (dia) berkata, 'Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu telah mempelajarinya." (Ali 'Imran: 79)Ibn Abbas memberikan penafsiran atas kata "rabbani" sebagaipara ahli hikmah sekaligus fuqaha.9Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan rabbani ialahorang yang mengajar manusia dengan ilmu kecilnya sebelum ilmuitu menjadi besar.Yang dimaksud dengan ilmu kecil ialah ilmu yang sederhana danpersoalannya jelas. Sedangkan ilmu besar ialah ilmu yangpelik-pelik. Ada pula yang mengatakan bahwa rabbani ialahorang yang mengajarkan ilmu-ilmu yang parsial sebelumilmu-ilmu yang universal, atau ilmu-ilmu cabang sebelumilmu-ilmu yang pokok, ilmu-ilmu pengantar sebelum ilmu-ilmuyang inti.10Yang dimaksudkan dengan pernyataan itu ialah bahwa pengajaranitu dilakukan secara bertahap, dengan memperhatikan kondisidan kemampuan orang yang diajarnya, sehingga dapatditingkatkan sedikit demi sedikit.Persoalan yang perlu diperhatikan oleh orang yang bergerakdalam bidang da'wah dan pendidikan ialah bahwa juru da'wah danpendidik itu mesti mengambil jalan yang paling mudah dan bukanjalan yang susah; memberikan kabar gembira dan tidakmenakut-nakuti mereka; sebagaimana disebutkan dalam sebuahhadits yang disepakati ke-shahih-annya oleh Bukhari danMuslim, "Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari."11Al-Hafizh ketika memberikan penjelasan terhadap hadits inimengatakan, "Yang dimaksudkan dengan hal ini ialah menarik simpati hati orang yang hampir dekat dengan Islam, dan tidak melakukan da'wah dengan cara yang keras dan kasar pada awal mula kegiatan da'wah itu. Begitu pula hendaknya kecaman terhadap orang yang suka melakukan kemaksiatan. Kecaman itu hendaknya dilakukan secara bertahap. Karena sesungguhnya sesuatu yang pada tahap awalnya dapat dilakukan dengan mudah, maka orang akan bertambah senang untuk memasukinya dengan hati yang lapang. Pada akhirnya, dia akan bertambah baik sedikit demi sedikit. Berbeda dengan cara berda'wah yang dilakukan dengan keras dan kasar." 12Yang dimaksudkan dengan perkataan ,mempermudah, di situbukanlah terbatas pada orang-orang yang hampir dekat hatinyadengan Islam, sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Hafizh,tetapi ia berlaku lebih umum dan permanen. Misalnyamempermudah jalan bagi orang yang hendak melakukan taubat,atau kepada setiap orang yang memerlukan keringanan; sepertiorang yang sakit atau sudah tua usianya, atau orang yangberada di dalam keadaan yang mendesak.Di antara keharusan yang berlaku di dalam ilmu pengetahuanialah upaya untuk mencari ilmu-ilmu agama sejauh kemampuanyang dimiliki oleh seseorang, sesuai dengan kadar kemampuanotaknya untuk menerima ilmu pengetahuan tersebut. Dia tidakboleh mengucapkan sesuatu yang tidak cocok dengan akalpikirannya, sehingga hal itu malah berbalik menjadi fitnahbagi dirinya dan juga kepada orang lain. Sehubungan dengan halini Ali r.a. berkata, "Berbicaralah kepada manusia sesuaidengan kadar pengetahuan mereka. Tinggalkan apa yang tidakcocok dengan akal pikiran mereka. Apakah engkau menghendakimereka mengatakan sesuatu yang bohong terhadap Allah danrasul-Nya?" 13Ibn Mas'ud r.a. berkata, "Engkau tidak layak menyampaikansesuatu yang tidak sesuai dengan kadar kemampuan otak mereka.Jika tidak, maka engkau akan menimbulkan fitnah pada sebagianorang itu."14.Catatan Kaki: 1 Diriwayatkan oleh Ibn 'Abd al-Barr dan lainnya dari Mu'adz, sebagai hadits marfu' dan mauquf, tetapi hadits ini lebih benar digolongkan kepada hadits mauquf. 2 Baca, Shahih al-Bukhari dan Fath al-Bari, 1:158-162, cet. Dar al-Fikr yang disalin dari naskah lama. 3 Baca Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlih, karangan Ibn 'Abd al-Barr, 1:27, cet. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah 4 Lihatlah sifat-sifat mereka dalam buku al-Lu'lu' wa al-Marjan fima Ittafaqa 'alaih al-Syaikhani, khususnya hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Jabir, Abu Sa'id, Ali, dan Sahal bin Hunaif (638-644). 5 Hadits Ali, Ibid. 6 Ucapan ini dikutip oleh Ibn Hazm dalam bukunya, Miftah Dar al-Sa'adah, h. 82 7 Diriwayatkan oleh para penulis Sunan Arba'ah dan al-Hakim; sebagai mana diriwayatkan oleh Thabrani dan Abu Ya'la, dan Baihaqi dari Ibn Umar; seperti yang dimuat di dalam al-Jami' as-Shaghir. (4446) dan (4447). 8 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Jabir, dan diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Ibn 'Abbas. Lihat Shahih al-Jami' as-Shaghir (4362) dan (4363). 9 Hal ini disebutkan oleh Bukhari ketika memberikan komentar pada bab "Ilmu" dalam Shahih-nya. Al-Hafizh berkata dalam Fath-nya, "Hadits ini sampai Ibn Abi 'Ashim dengan isnad hasan. Dan juga diriwayatkan oleh al-Khathib dengan isnad hasan yang berbeda." 1: 161 10 al-Fath, 1: 162 11 Diriwayatkan oleh al-Syaikhani dari Anas, sebagaimana disebutkan di dalam al-Lu'lu' wa al-Marjan 12 al-Fath, 1: 163 13 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab al-'Ilm, secara mauquf atas Ali r.a. (Lihar al-Fath. 1 225) 14 Diriwayatkan oleh Muslim dalam mukadimah as-Shahih secara mauquf atas Ibn Mas'ud. Ibid.

MAHABBAH (RASA CINTA) DAN TINGKATANNYA


Di antara unsur-unsur pokok dalam ukhuwwah adalah mahabbah (kecintaan). Adapun tingkatan mahabbah yang paling rendah adalah bersihnya hati (salamush shadr) dari perasaan hasud, membenci, dengki dan sebab-sebab permusuhan dan pertengkaran.
Al Qur'an menganggap permusuhan dan saling membenci itu sebagai siksaan yang dijatuhkan (oleh Allah) terhadap orang-orang yang kufur terhadap risalah-Nya dan menyimpang dari ayat-ayat-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan di antara orang-orang yang mengatakan, "Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani, telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan." (Al Maidah: 14)
Al Qur'an telah berbicara tentang khamr dan judi yang keduanya termasuk dosa besar yang mencelakakan dalam pandangan Islam. Sebagai alasan pertama diharamkannya adalah menimbulkan permusuhan dan kebencian dalam masyarakat, betapa pun keduanya berbahaya dari sisi yang lainnya yang juga tidak bisa disembunyikan, Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya syetan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjan itu). (Al Maidah: 91)
Di dalam hadits penyakit-penyakit itu disebut sebagai "Penyakit Ummat (Da'ul Umam). Di kesempatan lain Rasulullah juga menamakannya sebagai "Perusak" (Al Haliqah). Yaitu yang merusak agama, bukan merusak (memotong) rambut, disebabkan bahayanya bagi kesatuan jamaah dan keterkaitannya dengan sisi materi dan moral. Rasulullah SAW bersabda:
"Maukah kamu saya tunjukkan amal yang lebih utama derajatnya daripada derajat shalat, puasa dan sedekah? Yaitu memperbaiki hubungan antar dua orang (yang berselisih), sesungguhnya rusaknya hubungan itulah yang merusak (memutuskan)." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
"Telah merata kepadamu penyakit ummat terdahulu, "Itulah hasud dan kebencian, sementara kebencian itulah yang merusak, saya tidak mengatakan 'merusak (memotong) rambut' tetapi merusak agama." (HR. Al Bazzar)
"Pintu-pintu surga itu dibuka pada hari Senin dan Kamis, maka diampuni pada tiap hamba yang tidak syirik kepada Allah, kecuali seseorang yang antara dia dengan saudaranya terjadi permusuhan, maka dikatakan, "Lihatlah kedua orang itu!," hingga mereka berdamai, (disampaikan tiga kali)" (HR. Muslim).
Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya selama tiga hari, yang apabila saling bertemu maka ia berpaling, dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai dengan ucapan salam." (HR. Bukhari Muslim)
"Ada tiga orang yang shalatnya tidak diangkat di atas kepala sejengkal pun, "Seseorang yang mengimami suatu kaum, sedangkan kaum itu membencinya, dan wanita yang diam semalam suntuk sedang suaminya marah ke.padanya, dan dua saudara yang memutus hubungan di antara keduanya." (HR. Ibnu Majah)
Sesungguhnya suasana benci dan permusuhan adalah suasana yang busuk yang tidak menyenangkan, saat itulah syetan bisa menjual dagangannya dengan laris, seperti berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, ghibah (membicarakan aib orang lain), mengadu domba, berkata bohong dan mencari serta melaknat, sampai pada tingkatan saling membunuh di antara saudara. Ini adalah suatu bahaya yang diperingatkan oleh Rasulullah SAW dan dianggap sebagai sisa kejahiliyahan, Nabi SAW bersabda:
"Janganlah kamu kembali menjadi kafir setelahku, (yaitu) dengan memukul sebagian di antara kamu terhadap leher yang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi SAW juga bersabda:
"Mencaci maki seorang Muslim itu suatu kefasikan, dan membunuhnya adalah suatu kekufuran." (HR. Bukhari-Muslim)
Oleh karena itu memperbaiki hubungan saudara adalah termasuk amal ibadah yang paling mulia. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara dua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat" (Al Hujuraat: 10)
"Bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman." (Al Anfal: 1)
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dan orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma 'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar." (An-Nisa': 114)
Bahkan syari'at telah memberikan bagian tersendiri dari hasil zakat untuk orang-orang yang memiliki hutang dalam memperbaiki hubungan di antara mereka. Untuk membantu mereka agar dapat melakukan kemuliaan ini yang semula dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar dan memiliki cita-cita yang luhur (tinggi). Maka mereka itulah yang menanggung denda dan hutang para kabilah yang sedang bertengkar. meskipun mereka sendiri tidak memiliki harta secara leluasa.
Karena pentingnya memperbaiki hubungan antara dua fihak, maka Rasulullah SAW memberikan rukhsah (keringanan) terhadap orang yang melakukan perbaikan hubungan untuk tidak selalu dalam kejujuran yang sempurna dalam menentukan sikap pada masing-masing dari dua kelompok (pihak). Sehingga ia bisa (dibolehkan) memindahkan sebagian kata-kata sebagaimana dikatakan, yang telah menyalakan api permusuhan dan tidak memadamkannya, maka tidaklah mengapa dengan sedikit memperindah atau sedikit berdiplomasi (tauriyah). Rasulullah SAW bersabda:
"Bukanlah pembohong orang yang memperbaiki (mendamaikan) antara dua orang, lalu ia berkata dengan baik atau menambahi lebih baik. (HR. Ahmad)
Yang lebih tinggi dari tingkatan salaamatush shadr (bersihnya hati) dari rasa dengki dan permusuhan adalah tingkatan yang diungkapkan dalam hadits shahih sebagai berikut:
"Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri." (HR. Muttafaqun 'Alaih)
Berarti dengan demikian maka ia juga membenci segala sesuatu yang menimpa atas saudaranya sebagaimana ia membenci sesuatu itu menimpa dirinya. Maka jika ia senang jika dirinya memperoleh kemakmuran hidup maka ia juga menginginkan demikian itu terhadap orang lain. Dan jika ia menginginkan mendapat kemudahan dalam kehidupan berkeluarga(nya), maka ia juga menginginkan hal itu diperoleh orang lain. Dan jika ia ingin anak-anaknya menjadi cerdas, maka ia juga menginginkan hal yang sama untuk orang lain. Dan jika !a menginginkan untuk tidak disakiti baik ketika berada di rumah atau ketika sedang bepergian, maka begitu pula ia menginginkan kepada seluruh manusia. Dengan demikian ia menempatkan saudaranya seperti dirinya dalam segala sesuatu yang ia cintai dan ia benci.

Sunday, March 27, 2005

Perang Terhadap Al-Ikhwan


Fakta sebuah perubahan di dunia Arab bahwa ia harus memakan korban. Banyak para pengamat dan analis melihat bahwa musim serangan terhadap gerakan al-Ikhwan al-Muslimun (IM) telah dimulai sejak awal tahun 2005.
------------------
SAKSI - ADA salah satu harian baru Mesir, Nahdhah Mishr (kebangkitan Mesir) memuat peliputan khusus tentang IM dengan merangkum berbagai kelangan yang berseberangan dengannya baik dari pihak keamanan atau politisi. Tujuan dari peliputan tersebut nampaknya berusaha mengembalikan kondisi tradisional terhadap IM, kekerasan dan lainnya. Peliputan khusus tentang IM di atas muncul dalam media masa yang tidak hanya majalah tetapi bulletin pekanan dan koran harian, dan tidak hanya terjadi di Mesir tetapi juga di negara-negara Arab lain. Realitas ini tidak jauh dari apa yang disaksikan di lapangan bahwa itu punya tujuan mendiskreditkan potret riil IM seperti yang dimuat "Akhbar al-Yaum" 31/12/2004 lalu. Pada awal tahun 2005 ini harian "Al-Mishriy al-Yaum" (1/12005) memuat wawancara dengan al-Mursyid al-'Aam Muhammad Mahdi 'Akif. Di sini al-Mursyid mengkritisi secara jelas kondisi politik kontemporer Mesir yang otoriter. Ia menuntut adanya perubahan signifikan guna menyongsong masa depan negeri yang lebih baik. Ada beberapa prioritas yang ia pandang harus segera direformasi. Pertama, membuka keran kebebasan berpolitik. Kedua, mengakhiri masa darurat yang selama ini diberlakukan. Ketiga, melaksanakan pemilihan umum secara bebas sebagai muqaddimah alami bagi amandeman konstitusional yang diharapkan rakyat. Namun yang ternyata dimuat tidak ada satu butirpun dari tema besar tersebut yang dikedepankan oleh koran tersebut. Justeru yang dijadikan judul adalah statemen yang tidak pernah keluar dari mulut pimpinan IM ini, "Husni Mubarak adalah waliyyul al-Amri….ketaatan padanya wajib." Wawancara ini muncul di tengah suhu sosial politik di Mesir yang agak 'tegang' di mana rakyat menuntut pelaksanaan pemilihan calon presiden yang lebih dari satu dan di tengah kencangnya tuntutan amandemen konstitusi. Dan tuntutan ini yang sebenarnya menjadi substansi inisiatif reformasi yang diajukan oleh IM pada 3/3/2004 lalu. 'Serangan' media terhadap IM di atas terjadi secara koinsidental dengan jawaban-jawaban presiden Husni Mubarak dalam wawancaranya dengan koresponden media asing ternama seperti Diel Spiegel Jerman dan stasiun TV BBS Amerika yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang cukup 'mengusik'. Di sini harian Jerman tersebut mempertanyakan posisi IM yang seakan memposisikan diri sebagai 'alternative democracy' dan pertanyaan BBS kepada Mubarak tentang kemungkinan izin mendirikan partai baru termasuk IM. Jawaban Mubarak dalam konteks ini berkisar antara beberapa poin: Pertama, pergerakan IM punya sejarah terorisme. Kedua, konstitusi dan undang-undang Mesir tidak memberi ruang dan tidak akan mengizinkan partai apapun yang berdasarkan pada prinsip-prinsip agama. Ketiga, bahwa orang yang terakhir dibutuhkan oleh Mesir adalah IM. Dan keempat, perjalanan reformasi yang terjadi dengan multipartai, dan bila dibolehkan berdirinya partai Islami, maka sesungguhnya itu membuka empat macam pintu bagi IM untuk mendaptarkan partai. Hal ini yang tidak akan pernah diperkenankan. Layak untuk diingat sekitar lebih sepuluh tahun lalu saat presiden Mubarak singgah di Prancis memberi statemen kepada harian Le Monde (1993) bahwa Mesir punya arus gerakan Islam yang demokratis tidak menggunakan cara-cara kekerasan dan bergerak pada tataran politik secara demokratis. Namun ketika eksperimentasi demokrasi di Al-Jazair yang membuktikan kemenangan partai Islam Front Islamic du Salut, maka itu telah membalikkan persepsi positif Mubarak terhadap IM secara 180 derajat. Mubarak dalam hal ini menegaskan dalam statemen kepada wartawan Muhammad Sayyi Ahmad ketika memintanya memperkenankan berdirinya IM secara legal formal sebagai partai politik dalam pertemuannya dengan para intelektual bahwa ia tidak akan memberi ruang berulangnya ekperimentasi Al-Jazair di Mesir. Dan setelah itu kampanye 'permusuhan' terhadap IM terus berakselerasi. Mengapa IM Dimusuhi? Banyak tafsiran dalam menjawab pertanyaan sulit ini yang secara riil kampanye permusuhan tersebut berlangsung selama 15 tahun terakhir ini secara fluktuatif. Fluktuasi permusuhan ini dipengaruhi oleh konstelasi politik internasiona, regional terutama iklim 'perang' di Palestina ataupun local seperti keberhasilan IM menembus 'benteng-benteng' isolasinya yang secara realistis menyebar di tengah masyarakat Mesir. Pertama, seperti yang diangkat oleh Diel Speigel tentang demokrasi alternative yang dapat dimainkan oleh IM. IM diprediksi dapat menciptakan sistem yang mampu merealisasi banyak target local, regional atau internasional. 1) IM punya kemampuan untuk menggiring public trust dan meraih legitimasi konstitusional dengan memenangkan pemilu di Mesir bila dilaksanakan dengan fair dan demokratis. Ini yang secara factual diakui oleh Mubarak sendiri yang diwujudkan dengan cara-cara teror dan intimidasi terhadap kekuatan-kekuatan internasional Barat dan Amerika. 2) IM dapat menciptakan stabilitas di kawasan Timur Tengah dan mengaborsi munculnya kekerasan dengan keinginan besar rakyat untuk memberlakukan sistem Islami yang dapat menetralisir 'sumbu' ekstrimisme dan al-ghuluw. 3) Modernisasi pembangunan berkelanjutan yang komprehensif yang dapat merealisir lowongan kerja yang luas bagi pemuda-pemudi sehingga menggurungkan niat mereka untuk bereksodus ke Eropa. Hal ini dilakukan dengan cara memerangi korupsi, dekadensi moral dan melakukan transparansi pelaksanaan pemerintah, sektor ekonomi dan melaksanakan law inforcement dan rule of law. Kedua, keberhasilan realisasi pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan (PKP) di Turki yang mampu mengadministrasi sektor-sektor yang menjadi sorotan Barat khususnya di bidang Hak Asasi Manusia (HAM), menghormati hak-hak minoritas, pertumbuhan ekonomi yang booming, memenej hubungan dengan Amerika dan hubungan internasional dengan kemampuan yang patut diacungkan jempol. Dan ini diikuti dengan keberhasilan Turki merealisasikan mimpinya untuk bergabung dengan Uni Eropa, kendati masih terus dijegal oleh berbagai pihak yang tidak menyukai unifikasi negeri ini ke Uni Eropa. Hal ini nampak jelas dalam tulisan Abdullah Kamal "Rauz al-Yusuf" (No.3994, 25-31/2004) yang menulis sepanjang 3 lembar yang berusaha untuk menyalahkan pihak-pihak Barat yang berusaha mensejajarkan IM dengan PKP Turki. Ia mengakhiri tulisannya dengan menganggap upaya mengidentifikasi PKP dengan IM sebagai sebuah kesalahan dan tetap bersikukuh bahwa IM adalah 'mimpi buruk' bagi masa depan Mesir. Ketiga, dilema politik Amerika di Timur Tengah di mana negeri adidaya tersebut berusaha mengekspor dilemanya dan keterpurukannya di Irak ke negara-negara Arab dan Islam yang bertetangga dengan Irak. Keempat, tahun 2005 sebagai tahun pemilu presiden dan parlemen. Tahun 2005 ini tidak salah kalau disamakan dengan tahun 1995 di mana serangan dan permusuhan terhadap IM memuncak. Tahun ini akan menyaksikan memuncaknya tuntutan masyarakat meminta amandemen konstitusi yang membuka ruang bagi pemilihan calon presiden lebih dari satu. Tuntutan ini juga menyentuh wilayah control terhadap pemilu yang bersih dan transparansi dalam penghitungan hasilnya oleh lembaga-lembaga internasional. Dan ini secara tegas ditolak oleh Menteri Dalam Negeri. Kalau tuntutan masyarakat ini terus terjadi dan dapat dimanfaatkan oleh IM yang secara realistis punya dukungan massif dan popularitas tinggi niscaya Mesir akan menyaksikan IM sebagai pemenang. Menurut prediksi para pengamat bahwa bila ini terjadi maka IM minimal akan meraih 25-30% dari total suara yang akan menjadikannya kekuatan mayoritas di parlemen mengalahkan partai penguasa. Dan factor ini yang menjadikan IM sebagai target yang harus dilumpuhkan. Untuk itu maka kampanye media terus berlanjut dan semakin sengit terjadi dengan tujuan mendiskreditkan IM di mata masyarakat Mesir, mengisolasi IM dari percaturan politik local dengan tidak melibatkan gerakan ini dalam agenda "Konsolidasi Nasional" yang melibatkan partai-partai politik termasuk oposisi sekuler akhir-akhir ini, dan menyampaikan pesan kepada Barat secara umum dan Amerika secara khusus bahwa pemerintah tidak menerima agenda siapapun yang berusaha melibatkan IM dalam kehidupan politik Mesir. Semua kampanye permusuhan penguasa Mesir tersebut terhadap IM diakui cukup efektif membendung lajunya menuju kemenangan pada pemilu yang akan datang. Tetapi komitmen IM terhadap cara-cara demokratis, konstitusional dan Islami dalam mencapai tujuan mulianya tetap menjadikan gerakan Islam terpopuler di Mesir dan dunia tersebut harum di mata rakyat. Kampanye mendiskreditkan IM dan isolasinya kali ini bukan kali pertama. Hal demikian sudah menjadi 'menu'-nya selama ini sebagai eksistensi konflik 'al-haq dan al-bathil' yang cepat atau lambat akan berakhir dengan kemenangan pengikut al-haq. Bukan saja karena IM selalu dianiaya tetapi ia sudah berurat berakar dalam kehidupan masyarakat Mesir. Ahmad Dumyathi Bashori

Thursday, March 24, 2005

Proses Tata Cara Pernikahan Yang Islami

Karya : Salmah Machfoedz


prayoga.net - Sesungguhnya Islam telah memberikan tuntunan kepada pemeluknya yang akan memasuki jenjang pernikahan, lengkap dengan tata cara atau aturan-aturan Allah Subhanallah. Sehingga mereka yang tergolong ahli ibadah, tidak akan memilih tata cara yang lain. Namun di masyarakat kita, hal ini tidak banyak diketahui orang.

Pada risalah yang singkat ini, kami akan mengungkap tata cara penikahan sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam yang hanya dengan cara inilah kita terhindar dari jalan yang sesat (bidah). Sehingga orang-orang yang mengamalkannya akan berjalan di atas landasan yang jelas tentang ajaran agamanya karena meyakini kebenaran yang dilakukannya. Dalam masalah pernikahan sesunggguhnya Islam telah mengatur sedemikian rupa. Dari mulai bagaimana mencari calon pendamping hidup sampai mewujudkan sebuah pesta pernikahan. Walaupun sederhana tetapi penuh barakah dan tetap terlihat mempesona. Islam juga menuntun bagaimana memperlakukan calon pendamping hidup setelah resmi menjadi sang penyejuk hati.
Berikut ini kami akan membahas tata cara pernikahan menurut Islam secara singkat.

Hal-Hal Yang Perlu Dilakukan Sebelum Menikah

I. Minta Pertimbangan

Bagi seorang lelaki sebelum ia memutuskan untuk mempersunting seorang wanita untuk menjadi isterinya, hendaklah ia juga minta pertimbangan dari kerabat dekat wanita tersebut yang baik agamanya. Mereka hendaknya orang yang tahu benar tentang hal ihwal wanita yang akan dilamar oleh lelaki tersebut, agar ia dapat memberikan pertimbangan dengan jujur dan adil. Begitu pula bagi wanita yang akan dilamar oleh seorang lelaki, sebaiknya ia minta pertimbangan dari kerabat dekatnya yang baik agamanya.

II. Shalat Istikharah

Setelah mendapatkan pertimbangan tentang bagaimana calon isterinya, hendaknya ia melakukan shalat istikharah sampai hatinya diberi kemantapan oleh Allah Taala dalam mengambil keputusan.

Shalat istikharah adalah shalat untuk meminta kepada Allah Taala agar diberi petunjuk dalam memilih mana yang terbaik untuknya. Shalat istikharah ini tidak hanya dilakukan untuk keperluan mencari jodoh saja, akan tetapi dalam segala urusan jika seseorang mengalami rasa bimbang untuk mengambil suatu keputusan tentang urusan yang penting. Hal ini untuk menjauhkan diri dari kemungkinan terjatuh kepada penderitaan hidup. Insya Allah ia akan mendapatkan kemudahan dalam menetapkan suatu pilihan.

III. Khithbah (peminangan)

Setelah seseorang mendapat kemantapan dalam menentukan wanita pilihannya, maka hendaklah segera meminangnya. Laki-laki tersebut harus menghadap orang tua/wali dari wanita pilihannya itu untuk menyampaikan kehendak hatinya, yaitu meminta agar ia direstui untuk menikahi anaknya. Adapun wanita yang boleh dipinang adalah bilamana memenuhi dua syarat sebagai berikut, yaitu:

1. Pada waktu dipinang tidak ada halangan-halangan syari yang menyebabkan laki-laki dilarang memperisterinya saat itu. Seperti karena suatu hal sehingga wanita tersebut haram dini kahi selamanya (masih mahram) atau sementara (masa iddah/ditinggal suami atau ipar dan lain-lain).
2. Belum dipinang orang lain secara sah, sebab Islam mengharamkan seseorang meminang pinangan saudaranya.

Dari Uqbah bin Amir radiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Orang mukmin adalah saudara orang mukmin yang lain. Maka tidak halal bagi seorang mukmin menjual barang yang sudah dibeli saudaranya, dan tidak halal pula meminang wanita yang sudah dipinang saudaranya, sehingga saudaranya itu meninggalkannya." (HR. Jamaah)

Apabila seorang wanita memiliki dua syarat di atas maka haram bagi seorang laki-laki untuk meminangnya.

IV. Melihat Wanita yang Dipinang

Islam adalah agama yang hanif yang mensyariatkan pelamar untuk melihat wanita yang dilamar dan mensyariatkan wanita yang dilamar untuk melihat laki-laki yang meminangnya, agar masing- masing pihak benar-benar mendapatkan kejelasan tatkala menjatuhkan pilihan pasangan hidupnyaDari Jabir radliyallahu anhu, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

"Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, maka apabila ia mampu hendaknya ia melihat kepada apa yang mendorongnya untuk menikahinya." Jabir berkata: "Maka aku meminang seorang budak wanita dan aku bersembunyi untuk bisa melihat apa yang mendorong aku untuk menikahinya. Lalu aku menikahinya." (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Abu Dawud, 1832). Adapun ketentuan hukum yang diletakkan Islam dalam masalah melihat pinangan ini di antaranya adalah:

1. Dilarang berkhalwat dengan laki-laki peminang tanpa disertai mahram.
2. Wanita yang dipinang tidak boleh berjabat tangan dengan laki- laki yang meminangnya.

V. Aqad Nikah

Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi:

a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.
b. Adanya ijab qabul.

Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul itu artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima. Dalam perkawinan yang dimaksud dengan "ijab qabul" adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu. Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa:
Sahl bin Said berkata: "Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: "Saya serahkan diriku kepadamu." Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya." Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda: "Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadist Sahl di atas menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengijabkan seorang perempuan kepada Sahl dengan mahar atau maskawinnya ayat Al-Quran dan Sahl menerimanya.

c. Adanya Mahar (mas kawin)

Islam memuliakan wanita dengan mewajibkan laki-laki yang hendak menikahinya menyerahkan mahar (mas kawin). Islam tidak menetapkan batasan nilai tertentu dalam mas kawin ini, tetapi atas kesepakatan kedua belah pihak dan menurut kadar kemampuan. Islam juga lebih menyukai mas kawin yang mudah dan sederhana serta tidak berlebih-lebihan dalam memintanya.

Dari Uqbah bin Amir, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: "Sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan." (HR. Al-Hakim dan Ibnu Majah, shahih, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir 3279 oleh Al-Albani)

d. Adanya Wali

Dari Abu Musa radliyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah sah suatu pernikahan tanpa wali." (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 1836).Wali yang mendapat prioritas pertama di antara sekalian wali-wali yang ada adalah ayah dari pengantin wanita. Kalau tidak ada barulah kakeknya (ayahnya ayah), kemudian saudara lelaki seayah seibu atau seayah, kemudian anak saudara lelaki. Sesudah itu barulah kerabat-kerabat terdekat yang lainnya atau hakim.

e. Adanya Saksi-Saksi

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

"Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali dan dua orang saksi yang adil." (HR. Al-Baihaqi dari Imran dan dari Aisyah, shahih, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir oleh Syaikh Al-Albani no. 7557).

Menurut sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam, sebelum aqad nikah diadakan khuthbah lebih dahulu yang dinamakan khuthbatun nikah atau khuthbatul-hajat.

VI. Walimah

Walimatul Urus hukumnya wajib. Dasarnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaih wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf:

"....Adakanlah walimah sekalipun hanya dengan seekor kambing." (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Alabni dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1854)

Memenuhi undangan walimah hukumnya juga wajib."Jika kalian diundang walimah, sambutlah undangan itu (baik undangan perkawinan atau yang lainnya). Barangsiapa yang tidak menyambut undangan itu berarti ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya." (HR. Bukhari 9/198, Muslim 4/152, dan Ahmad no. 6337 dan Al-Baihaqi 7/262 dari Ibnu Umar).

Akan tetapi tidak wajib menghadiri undangan yang didalamnya terdapat maksiat kepada Allah Taala dan Rasul-Nya, kecuali dengan maksud akan merubah atau menggagalkannya. Jika telah terlanjur hadir, tetapi tidak mampu untuk merubah atau menggagalkannya maka wajib meninggalkan tempat itu.

Dari Ali berkata: "Saya membuat makanan maka aku mengundang Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dan beliaupun datang. Beliau masuk dan melihat tirai yang bergambar maka beliau keluar dan bersabda:

"Sesungguhnya malaikat tidak masuk suatu rumah yang di dalamnya ada gambar." (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah, shahih, lihat Al-Jamius Shahih mimma Laisa fis Shahihain 4/318 oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii).

Adapun Sunnah yang harus diperhatikan ketika mengadakan walimah adalah sebagai berikut:

1. Dilakukan selama 3 (tiga) hari setelah hari dukhul (masuk- nya) seperti yang dibawakan oleh Anas radliallahu `anhu, katanya:

Dari Anas radliallahu `anhu, beliau berkata: "Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam telah menikahi Shafiyah dengan maskawin pembebasannya (sebagai tawanan perang Khaibar) dan mengadakan walimah selama tiga hari." (HR. Abu Yala, sanad hasan, seperti yang terdapat pada Al-Fath 9/199 dan terdapat di dalam Shahih Bukhari 7/387 dengan makna seperti itu. Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah Al-Muthaharah oleh Al-Albani hal. 65)

2. Hendaklah mengundang orang-orang shalih, baik miskin atau kaya sesuai dengan wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

"Jangan bersahabat kecuali dengan seorang mukmin dan jangan makan makananmu kecuali seorang yang bertaqwa." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Abi Said Al-Khudri, hasan, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir 7341 dan Misykah Al-Mashabih 5018).

3. Sedapat mungkin memotong seekor kambing atau lebih, sesuai dengan taraf ekonominya. Keterangan ini terdapat dalam hadits Al-Bukhari, An-Nasai, Al-Baihaqi dan lain-lain dari Anas radliallahu `anhu. Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf:

"Adakanlah walimah meski hanya dengan seekor kambing." (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1854)

Akan tetapi dari beberapa hadits yang shahih menunjukkan dibolehkan pula mengadakan walimah tanpa daging. Dibolehkan pula memeriahkan perkawinan dengan nyanyi-nyanyian dan menabuh rebana (bukan musik) dengan syarat lagu yang dinyanyikan tidak bertentangan dengan ahklaq seperti yang diriwayatkan dalam hadits berikut ini:
Dari Aisyah bahwasanya ia mengarak seorang wanita menemui seorang pria Anshar. Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: "Wahai Aisyah, mengapa kalian tidak menyuguhkan hiburan? Karena kaum Anshar senang pada hiburan." (HR. Bukhari 9/184-185 dan Al-Hakim 2/184, dan Al-Baihaqi 7/288). Tuntunan Islam bagi para tamu undangan yang datang ke pesta perkawinan hendaknya mendoakan kedua mempelai dan keluarganya.Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaih wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan doa: "Mudah-mudahan Allah memberimu berkah. Mudah-mudahahan Allah mencurahkan keberkahan kepadamu dan mudah - mudahan Dia mempersatukan kalian berdua dalam kebajikan." (HR. Said bin Manshur di dalam Sunannya 522, begitu pula Abu Dawud 1/332 dan At-Tirmidzi 2/171 dan yang lainnya, lihat Adabuz Zifaf hal. 89)

Adapun ucapan seperti "Semoga mempelai dapat murah rezeki dan banyak anak" sebagai ucapan selamat kepada kedua mempelai adalah ucapan yang dilarang oleh Islam, karena hal itu adalah ucapan yang sering dikatakan oleh Kaum jahiliyyah.

Dari Hasan bahwa Aqil bin Abi Thalib menikah dengan seorang wanita dari Jisyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyyah: "Bir rafa wal banin." Aqil bin Abi Thalib mencegahnya, katanya: "Jangan kalian mengatakan demikian karena Rasulullah melarangnya." Para tamu bertanya: " Lalu apa yang harus kami ucapkan ya Aba Zaid?" Aqil menjelaskan, ucapkanlah: "Mudah- mudahan Allah memberi kalian berkah dan melimpahkan atas kalian keberkahan." Seperti itulah kami diperintahkan. (HR. Ibnu Abi Syaibah 7/52/2, An-Nasai 2/91, Ibnu Majah 1/589 dan yang lainnya, lihat Adabuz Zifaf hal. 90)

Demikianlah tata cara pernikahan yang disyariatkan oleh Islam. Semoga Allah Taala memberikan kelapangan bagi orang- orang yang ikhlas untuk mengikuti petunjuk yang benar dalam memulai hidup berumah tangga dengan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaih wa sallam. Mudah-mudahan mereka digolongkan ke dalam hamba-hamba yang dimaksudkan dalam firman-Nya: "Yaitu orang-orang yang berdoa: Ya Rabb kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa." (Al-Furqan: 74).

Maraji:
- Fiqhul Marah Al-Muslimah, Ibrahim Muhammad Al-Jamal.
- Adabuz Zifaf fis Sunnah Al-Muthahharah, Syaikh Nashiruddin Al-Albani.

Proposal Nikah

Karya : 4121x13

prayoga.net -

Latar Belakang

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : "Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu".

Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na'udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" (Qs. Al Israa' : 32).

Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. "Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu," ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga¡¨, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a'lam.

Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.

Dasar Pemikiran

Dari Al Qur¡¦an dan Al Hadits :

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).

"Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).

¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui¡¨ (Qs. Yaa Siin (36) : 36).

Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).

Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).

Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).

..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa' (4) : 3).

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).

Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).

Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14. Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi).

Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).

"Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram."

"Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).

Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).

Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).

Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).

Rasulullah SAW. bersabda : "Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari).

Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani).

Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).

Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).

Tujuan Pernikahan

Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.

Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.

Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.

Mendapatkan cinta dan kasih sayang.

Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).

Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).

Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)

Kesiapan Pribadi

Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : ¡§Man Jadda Wa Jadda¡¨ (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).

Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).

Termasuk tathhir (mensucikan diri).

Secara materi, Insya Allah siap. ¡§Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya¡¨ (Qs. At Thalaq (65) : 7)

Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan

Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.

Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.

Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.

Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.

Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad) dan "Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na'udzubillahi min dzalik

Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :

Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb

Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu'an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)

Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.

Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.

Memperbaiki Niat :

Innamal a'malu binniyat....... Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.

Niat Ketika Memilih Pendamping

Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya."(HR. Thabrani).

"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah).

Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).

Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ¡§Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi). Niat dalam Proses Pernikahan

Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya'. "Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."(Qs. An Nisaa (4) : 4).

Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, "Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : "Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : " Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya" (Ditakhrij dari An Nasa'i)..Subhanallah..

Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. "Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim)

Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.

Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo'akan pengantin dengan do'a : Barokallahu laka wa baroka 'alaikum wa jama'a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan ("Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama" - Qs. Al Ahzab (33),

Meraih Pernikahan Ruhani

Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.

Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)

Penutup

"Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas." (Qs. Al Maidaah (5) : 87).

Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan "Jazakumullah Khairan katsiira". "Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin"

====================================
Dedicated to : My inspiration .... yang pernah singgah dan menghuni "hati" ...Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya..Lalu, kucoba atur gelombang asa..Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu.. Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani panjangnya jalan dakwah yang harus aku titi.. " Saat Cinta dan Rindu tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah.."
====================================

Maraji / Referensi :

Majalah Ishlah, Edisi Awal Tahun 1995.

Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasyid, 1994, Cet. 27, Bandung, Sinar Baru Algesindo.

Fikih Sunnah 6, Sayyid Sabiq, 1980, cet. 15, Bandung, Pt. Al Ma'arif.

Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Muhammad Faudzil Adhim, 1998, Yogyakarta, Mitra Pustaka.

Indahnya Pernikahan Dini, Muhammad Faudzil Adhim, 2002, Cet. 1, Jakarta, Gema Insani Press.

Rintangan Pernikahan dan Pemecahannya, Abdullah Nashih Ulwan, 1997, Cet. 1, Jakarta, Studia Press.

Perkawinan Masalah Orang muda, Orang Tua dan Negara, Abdullah Nashih Ulwan, 1996, Cet. 5, Jakarta, Gema Insani Press.

Kebebasan Wanita, jilid 1, 5, 6, A.H.A. Syuqqah, 1998, Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press

Sulitnya Berumah Tangga, Muhammad Utsman Al Khasyt, 1999, Cet. 18, Jakarta, Gema Insani Press.

Majalah Cerdas Pemuda Islam Al Izzah, Wahai Pemuda, Menikahlah, No. 17/Th. 2 31 Mei 2001, Jakarta, YPDS Al Mukhtar.

Sumber : www.dudung.net