izZi Blog

Friday, July 08, 2005

KARAKTERISTIK AYAH




Oleh: Rudy Himawan

Seorang Muslim sudah semestinya memikirkan masa depan dengan melakukaninvesment -bukan dengan stock portofolio, 401K, rumah ataupun savingaccount, tetapi dengan shodaqoh jariyah, menyebarkan ilmu yang bermanfaat,dan membina anak yang sholeh/-ah. Ketiga aktivitas ini ternyata tercakupdalam proses pendidikan anak dan apalagi Alhamdulillah banyak diantarakita yang telah dikaruniai anak, sehingga saya tergerak untuk merangkum 6 karakteristik kepribadian seorang ayah idaman.
1. Keteladanan

Suatu pagi, saya terperanjat ketika melihat cara putriku memakaisepatunya. Ia langsung memasukkan kakinya ke dalam sepatu tanpa melepastalinya. Rupanya selama ini ia memperhatikan bagaimana cara saya memakaisepatu. Karena malas membuka simpul tali sepatu, sering kali sayalangsung memakainya tanpa membuka dan mengikat simpul tali sepatu. Sayaberusaha melarangnya dengan memberikan penjelasan bhw cara memakai sepatuseperti itu bisa mengakibatkan sepatu cepat rusak. Namun hasilnya nihil.Ini merupakan satu contoh nyata bhw anak, terutama pada usia dini, mudahsekali mencontoh orangtuanya. Tidak perduli apakah itu benar atau salah.Nasehat kita tidak ada manfaatnya, jika kita tetap melakukan apa yang kitalarang.Apakah kita sudah memberikan teladan yang terbaik kepada anak-anak kita?Apakah kita lebih sering nonton TV dibandingkan membaca Al-Quran atau bukulain yang bermanfaat? Apakah kita lebih sering makan sambil jalan danberdiri dibandingkan sambil duduk dengan membaca Basmallah? Apakah kitasholat terlambat dengan tergesa-gesa dibandingkan sholat tepat waktu?Apakah bacaan surat kita itu-itu saja?Allah SWT berfirman dalam surat ash-shaff 61:2-3:"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamuperbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apayang tiada kamu kerjakan. "Allah SWT juga mengingatkan untuk tidak bertingkah laku seperti BaniIsrail dalam firmanNya dalam surat Al-Baqoroh 2:44 "Mengapa kamu suruhorang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamuberpikir?"

2. Kasih Sayang dan Cinta

Kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang yang tulus merupakan dasarpenting bagi pendidikan anak. Anak-anak usia dini tidak tahu apa namanya,tapi dengan fitrahnya mereka bisa merasakannya. Lihatnya bagaimanariangnya sorot mata dan gerakan tangan serta kaki seorang bayi ketikaibunya akan mendekap dan menyusuinya dengan penuh kasih sayang. Bayikecilpun sudah mampu menangkap raut wajah yang selalu memberikankehangatan, kelembutan, dan kasih sayang dengan tulus, apalagi mereka yangsudah lebih besar.Rasulullah SAW pada banyak hadith digambarkan sebagai sosok ayah, paman,atau kakek yang menyayangi dan mengungkapkan kasih sayangnya yang tulusikhlas kepada anak-anak. Sebuah kisah yang menarik yang diceritakan olehal-Haitsami dalam Majma'uz Zawa'id dari Abu Laila.Dia berkata: "Aku sedang berada di dekat Rasulullah SAW. Pada saat ituaku melihat al-Hasan dan al-Husein sedang digendong beliau. Salah seorangdiantara keduanya kencing di dada dan perut beliau. Air kencingnyamengucur, lalu aku mendekati beliau. Rasulullah SAW bersabda, 'Biarkankedua anakku, jangan kau ganggu mereka sampai ia selesai melepaskanhajatnya.' Kemudian Rasulullah SAW membawakan air." Dalam riwayat laindikatakan, 'Jangan membuatnya tergesa-gesa melepaskan hajatnya.'Bagaimana dengan kita?Sudahkan kita ungkapkan kecintaan kita yang tulus kepada anak-anak kitahari ini?

3. Adil

Siapa yang belum pernah dengar kata sibling rivalry dan favoritism? Jikabelum dengar, maka ketahuilah! Siapa tahu kita termasuk orang yang telahmelakukannya. Seringkali kita terjebak oleh perasaan kita sehingga kitatidak berlaku adil, misalnya karena anak kita yang satu lebih penurutdibandingkan anak yang lain atau karena kita lebih suka anak perempuandaripada anak laki-laki dll.Rasulullah SAW bersabda: "Berlaku adillah kamu di antara anak-anakmu dalampemberian." (HR Bukhari)Masalah keadilan ini dikedepankan untuk mencegah timbulnya kedengkiandiantara saudara. Para ahli peneliti pendidikan anak berkesimpulan bahwafaktor paling dominan yang menimbulkan rasa hasad/ dengki dalam diri anakadalah adanya pengutamaan saudara yang satu di antara saudara yanglainnya.Anak sangat peka terhadap perubahan perilaku terhadap dirinya. Jika kitalepas kontrol, sesegera mungkin untuk memperbaiki, karena anak yangdiperlakukan tidak adil bisa menempuh jalan permusuhan dengan saudaranyaatau mengasingkan diri (menutup diri dan rendah diri).

4. Pergaulan dan Komunikasi

Seringkali kita berada dalam satu ruangan dengan anak-anak, tapi kitatidak bergaul dan berkomunikasi dengan mereka. Kita asyiik membaca koran,mereka asyiik main video game, atau nonton TV.Banyak ahadith yang menggambarkan bagaimana kedekatan pergaulan RasulullahSAW dengan anak-anak dan remaja. Beliau bercanda dan bermain denganmereka.Bagaimana dengan kita yang sudah sibuk kuliah sambil bekerja plus'ngurusin' IMSA (**smile**)? Mana ada waktu untuk bercengkrama dengananak-anak? Sebenarnya ada waktu, jika kita mengetahui strateginya.Misalnya, sewaktu menemani anak bermain CD pendidikan di komputer, kitabisa menjelaskan cara mengerjakan/bermainnya, lalu memberi contohsebentar, lantas bisa kita tinggalkan. Begitu pula dengan buku bacaan danpermainan lainnya. Repotnya ada sebagian ayah yang tidak mau berkumpuldengan anak-anak, terutama yang menjelang dewasa karena takut kehilanganwibawa atau kharismanya. Ini pandangan yang keliru. Yang lebih tepatadalah kita jaga keseimbangan, artinya kita tidak boleh terlalu kaku dalammemegang kekuasaan dan kharisma, tetapi juga tidak boleh terlalu longgar.

5. Bijaksana Dalam Membimbing

Rasulullah SAW bersabda: "... Binasalah orang-orang yang berlebihan ..."(HR Muslim). Jadi metoda yang paling bijaksana dalam mendidik dan mengarahkan anak adalah yang konsisten dan pertengahan - seimbang, yaknitidak membebaskan anak sebebas-bebasnya dan tidak mengekangnya; janganterlalu sering menyanjung, namun juga jangan terlalu sering mencelanya.Bila ayah memerintahkan sesuatu kepada anaknya, hendaknya ayahmelakukannya dengan hikmah, penuh kasih sayang, dan tidak lupa membumbuinyadengan canda seperlunya. Jelaskan hikmah dan manfaatnya, sehingga anaktermotivasi untuk melakukannya. Jangan lupa juga untuk memperhatikankondisi anak dalam melaksanakan perintah atau aturan tersebut.Imam Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa melatih pribadi perlu kelembutan,tahapan dari kondisi yang satu ke kondisi yang lain, tidak menerapkankekerasan, dan berpegang pada prinsip pencampuran antara rayuan dan ancaman.

6. Berdoa

Para nabi selalu berdoa dan memohon pertolongan Allah untuk kebaikanketurunannya."Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeriini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucukudaripada menyembah berhala-berhala." (Ibrahim:35)"Segala puji bagi Allah yang telah menganugrahkan kepadaku di haritua(ku)Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar(memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucukuorang-orang yang tetap mendirikan sholat. Ya Tuhan kami, perkenankanlahdoaku." (Ibrahim:39-40)

5 Comments:

Post a Comment

<< Home